Ujaran Kebencian Ancam Persatuan Bangsa

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Sabtu, 03 November 2018 08:10 WIB
Ujaran Kebencian Ancam Persatuan Bangsa

Ilustrasi hoaks./JIBI

Harianjogja.com, SLEMAN--Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar seminar nasional bertajuk Pemuda dan Bela Negara, Kamis (1/11/2018). Pada kesempatan itu Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengajak anak muda untuk tidak mudah terhasut pemberitaan tidak bertanggung jawab.

Pratikno mengakui hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah menjadi tantangan dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Anak muda harus mewaspadai pesan hoaks yang hanya dijadikan komoditas industri. "Jika hal ini [hoaks] menjadi konsumsi generasi muda melalui jaringan Internet, dan sosial media akan mengancam keutuhan negara," dia.

Anak muda juga harus andil menggelorakan pesan kebaikan dan menguasai panggung teknologi informasi agar pesan buruk semakin hilang. Pratikno mengatakan Indonesia mustinya bersyukur karena di luar sana banyak negara yang terus berperang, bahkan negara yang satu agama sekalipun seperti Afganistan. Rohingnya juga harus mengungsi karena perbedaan agama.

"Kita harus bersyukur karena Indonesia bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam kondisi yang sangat plural ini," kata mantan Rektor UGM ini.

Saat ini Pemerintahan Jokowi ikut andil menyatukan Afganistan. Pratikno mengatakan jika upaya ini berhasil, Indonesia memiliki peran besar dalam memimpin negara-negara muslim dunia. Pratikno berharap kaum muda Indonesia mampu memantapkan rasa kebangsaan untuk turut andil menjaga persatuan dan kesatuan.

Dalam seminar nasional yang menjadi rangkaian Perhelatan Akbar Pekan Pancasila dan Bela Negara ini, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi juga mengajak mahasiswa bersyukur bisa hidup di negara besar yang memiliki prestasi tingkat dunia.

Beberapa di antaranya menyatukan segala perbedaan dan bersatu memperjuangkan kemerdekaan serta menjadi negara besar dengan segala kekayaannya tanpa terlibat dalam negara super power. Menurut Rektor, anak muda perlu memahami bahwa seluruh umat Islam di Indonesia boleh meyakini dan mempertahankan keyakinan masing masing, tetapi juga harus menyepakati konsensus bersama, yakni Pancasila, bhineka tunggal ika, dan NKRI.

"Sepeninggal Rasulullah, legitimasi tertinggi umat Islam adalah Ijma’ atau konsensus, bukan lagi pemahaman masing masing terhadap Alquran dan hadis. Kalau pemahaman masing-masing yang dipegang maka akan terus timbul perpecahan di kalangan umat Islam sendiri," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online