Ratusan mahasiswa menandatangani petisi penolakan terhadap kekerasan seksual saat aksi damai UGM Darurat Kekerasan Seksual di Kampus Fisipol UGM, Sleman, Kamis (8/11/2018)./Harian Jogja-Gigih M. hanafi
Harianjogja.com, SLEMAN- Keberadaan HS, mahasiswa Fakultas Teknik UGM terduga pelaku pemerkosa mahasiswi Fisipol hingga kini tak diketahui keberadaannya. Rekannya khawatir, HS memilih jalan pintas terkait kasus yang kini menderanya.
HS ternyata pernah tinggal di di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang Jalan Magelang, Tegalrejo, Kota Jogja pada 2014 hingga 2015.
Rekan HS yang sama-sama masuk asrama pada 2014 Furqan Abdul Rais, 21 mengungkapkan sosok mahasiswa asal Sumatra Barat itu.
Pada tahun pertama tinggal di asrama, HS pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa baru terbaik di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang.
"Di asrama ini setiap tahun ada penghargaan warga terbaik dan warga baru terbaik, pada 2014, dia yang terpilih jadi warga baru terbaik," kata Furqan ditemui Selasa (13/11/2018), di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang.
Ia menceritakan pada saat HS tinggal di asrama, ia dikenal sebagai orang yang baik. Bahkan dikenal alim karena sering mengajak teman-temannya salat ke masjid.
"Waktu di sini dia tinggal di kamar nomor tiga. Dia suka mengajak kami satu angkatan ke masjid di sebelah asrama untuk salat. Ini bukan melebih-lebihkan," ujarnya.
Namun, HS hanya tinggal satu tahun di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang tersebut. Pada 2015 ia memilih tinggal di indekos. "Katanya ingin fokus kuliah, kami ikut bantu angkat barang-barangnya [saat pindah ke indekos]," kata Furqan.
Terkait kasus pemerkosaan yang diduga dilakukan HS, Furqan mengaku pernah mendengar kabar tersebut pada 2017, namun ia tidak pernah mendengar HS bercerita langsung soal kasus yang dialaminya.
"Tanggapan saya dan teman-teman satu asrama terhadap HS, jujur kami kecewa, kalau HS salah dihukum saja," ucapnya.
Namun, ia berharap masyarakat lebih bijak dalam menyaring informasi terkait dengan pribadi dan keluarga HS yang belakangan ini viral di media sosial.
"Saya melihat banyak informasi mengenai HS dan keluarganya di media sosial, bahkan hingga informasi dia mau daftar kerja di mana, saya lihatnya juga kasihan, saya takut ia mengakhiri hidupnya," ucapnya.
Furqan juga menyampaikan harapannya terkait dengan penyelesaian kasus ini. "Yang pertama, buat HS, tetap tabah dan sabar menjalani, apapun yang terjadi apapun kesalahannya silakan diterima itu konsekuensi dari setiap tindakan. Karena waktu di asrama pun diajarkan satu kesalahan, satu konsekuensi," ujarnya.
Kedua, ia berharap untuk otoritas UGM bijak dalam menyelesaikan kasus ini. "Harapan untuk UGM, tolong berikan bantuan psikologis, hukum, atau jalan keluarnya kayak gimana walaupun dia itu seorang pelaku harus tetap dilindungi," ujar Furqan.
Ia juga berharap masyarakat lebih bijak dalam menyikapi masalah ini. "Mari kita sama-sama mengawal kasus ini, namun jangan sampai melebar ke hal-hal lain," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.