Serangan Monyet Bikin Resah Petani Tanjungsari Gunungkidul
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Suasana rapat koordinasi Geopark Nasional di dalam Gua Rancang Kencono, di Bleberan, Kecamatan Playen, Jumat (16/11/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Keberadaan Geopark Gunungsewu salah satunya berfungsi sebagai edukasi kepada masyarakat. Guna memaksimalkan peran ini, Dinas Pariwisata terus berupaya menyosialisasikan geopark ke dunia pendidikan di Gunungkidul, mulai dari sejarah hingga upaya konservasi untuk melestarikan warisan bumi itu.
Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, untuk memaksimalkan peran geopark dalam hal edukasi dilakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Kerja sama ini dengan memberikan sosialisasi kepada guru berkaitan tentang UNESCO Global Geopark Gunungsewu kepada para guru. Diharapkan dengan sosialisasi ini, para guru dapat menularkan pengetahuan yang dimiliki tentang kawasan Karst Gunugsewu kepada para siswa didik di Gunungkidul.
“Untuk sosialisasi kepada para guru sudah dilakukan di akhir November lalu,” kata Hary, Sabtu (1/12/2018).
Dia menjelaskan, di dalam sosialisasi dipaparkan bagaimana sejarah terbentuknya kawasan karst Gunungsewu. Di dalam kegiatan itu juga dipaparkan bagaimana upaya konservasi agar kawasan tersebut dapat tetap terjaga hingga masa akan datang.
“Dari sosialisasi ini diharapkan para guru maupun siswa bisa paham dan ikut berpartisipasi dalam upaya pelestarian,” katanya.
Hary menuturkan, kegiatan sosialisasi untuk edukasi juga sebagai upaya mempertahakan predikat UGG Gunungsewu yang rencananya direvalidasi ulang di tahun depan. Guna menyambut penilaian ulang ini, ketiga kabupaten yang masuk dalam bentang alam Gunungsewu terus melakukan koordinasi agar status yang diperoleh di 2015 lalu dapat dipertahankan.
“Kita terus lakukan komunikasi dan koordinasi untuk menyambut penilaian dari tim UNESCO,” imbuh mantan Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata ini.
Ditambahkannya, harapan lain dari pelaksanaan sosialisasi tengtang geopark di dunia pendidikan adalah dapat memperkenalkan kepada para siswa. Tak sebatas itu, juga diharapkan adanya kunjungan untuk melihat dari dekat tentang situs warisan bumi ini.
“Mudah-mudahan bisa menjadi muatan lokal di sekolah sehingga para murid bisa mengerti dan ikut melestarikan keberadaan geopark Gunungsewu,” imbuhnya.
Kepala Seksi Promosi dan Informasi, Dinas Pariwisata Gunungkidul Purnomo Sumardamto mengatakan, sosialisasi geopark ke para guru merupakan agenda rutin yang dimiliki Dinas Pariwiata. Tahun depan, sosialisasi yang sama akan kembali dilaksanakan.
“Ada tiga peran penting dari geopark, yakni konservasi, Edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Jadi, untuk peran edukasi akan terus dilaksanakan dengan harapan para siswa dan guru di Gunungkidul dapat mengetahui pentingnya Geopark Gunungsewu sebagai situs warisan dunia,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Minim Sampah, Berkarya di Kebun, Bahagia di Dapur