Bus Sekolah Gunungkidul Kembali Normal, Ada Tambahan Rp270 Juta
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Ngadiyono./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tak terima dicoret dari daftar calon anggota legislatif, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Ngadiyono, melayangkan gugatan ke Bawaslu Gunungkidul, Kamis (21/2/2019). Ia berharap gugatannya dikabulkan sehingga bisa maju sebagai calon tetap anggota DPRD Gunungkidul periode 2019-2024.
“Saya datang ke sini [Kantor Bawaslu] bukan untuk silahturahmi, tetapi mengajukan gugatan atas pencoretan pencalegan saya yang dilakukan KPU Gunungkidul,” kata Ngadiyono kepada wartawan, Kamis.
Dia menjelaskan gugatan dilayangkan karena dia ingin mendapatkan keadilan. Oleh karena itu, sehari setelah surat keputusan pencoretan dari KPU Gunungkidul turun dia langsung menyerahkan gugatan ke Bawaslu. “Harapannya gugatan ini dikabulkan sehingga bisa nyalon lagi,” katanya.
Ketua Bawaslu Gunungkidul, Is Sumarsono, mengatakan jajarannya sudah menerima berkas gugatan yang dilayangkan Ngadiyono. Meski demikian, setelah melakukan penelitian masih ada berkas yang kurang seperti isi materi gugatan hingga beberapa syarat lainnya. “Kami berikan waktu tiga hari untuk perbaikan. Tindak lanjutnya masih menunggu kelengkapan berkas yang dibutuhkan,” kata Is Sumarsono, Kamis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Jadwal MotoGP Jepang 2026, Bagnaia harus melalui Q1. Cek jam FP2, Q1, Q2, Sprint, dan balapan utama di Motegi.
Ferran Torres meninggalkan Timnas Spanyol karena cedera pergelangan kaki. Carlos Espi dipanggil untuk laga Nations League.
HP hilang di kereta? Segera kunci perangkat, lacak lokasi, amankan akun, hubungi operator, dan hapus data jika diperlukan.
Bank BPD DIY kembali menggelar Malioboro Run 2026 bertema Culture on Track dengan lebih dari 8.000 peserta dan rute yang melewati sejumlah ikon budaya Jogja
Mahasiswa UII mengembangkan RespiraTB, wearable berbasis sensor accelerometer untuk skrining awal gejala TBC secara real-time.