Asita Khawatir Kenaikan Harga Tiket Pesawat Hambat Pertumbuhan Wisata
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan kenaikan harga tiket pesawat akan menghambat pertumbuhan wisatawan
Warga keturunan Tionghoa membersihkan makam leluhurnya, menjelang peringatan Cheng Beng, di Pemakaman Gunung Sempu, Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Rabu (27/3)./ Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, JOGJA—Berbagai persembahan pada tradisi Cheng Beng atau Qing Mingyang mewujudkan rasa hormat pada leluhur dan dipercayai leluhur masih ada di sekitar keluarga yang masih hidup.
Pada prosesi tradisi ini pula biasanya ada pembakaran gincua atau uang kertas perak dan kimcua kertas emas. “Jadi chua itu kertas. Ada kertas emas dan yang perak ibaratnya uang dikirim kesana dengan cara dibakar. Maknanya memberi uang,” kata Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto, Rabu (3/4).
Jimmy menjelaskan hal tersebut mewujudkan pula seolah-olah para leluhur tersebut masih di dunia yang sama. Selain itu juga ada yang membuat rumah-rumahan dengan kertas, kayu atau bambu itu dan dibakar.
Selain itu dalam Cheng Beng itu biasanya juga ada dupa, bunga tabur, ataupun makanan. Ia menjelaskan sebenarnya inti dari Cheng Beng sendiri hanya pada membersihkan dan mendoakan para leluhur yang sudah meninggal.
“Sebenarnya yang utama hanya membersihkan makam dan kirim doa. Kadang kan ada yang orang tuanya meninggal sejak kecil anaknya. Jadi biar tahu. Saat ini terus diwariskan itu,” ucapnya.
Tempat Khusus
Pelaksana pemakaman di Gunung Sempu, Pariman mengungkapkan dalam pembangunan pemakaman Tionghoa memang di bagian depan ada tempat khusus untuk menempatkan berbagai makan persembahan atau meletakkan dupa. “Ada juga kalau yang masih menjaga tradisi itu di sisi depan kirinya ada tempat untuk membakar uang-uangan itu. Itu menandakan untuk pengiriman doa kepada para leluhurnya. Biasanya ya pas Cheng Beng itu ramai sekali, pada bersih-bersih kirim doa,” ucapnya.
Meski begitu ia mengatakan saat ini banyak pemakaman Tionghoa yang sudah tidak sesuai dengan tradisi-tradisi yang ada. Meski begitu ia mengatakan masih mencoba membantu dalam pembuatan dengan menjelaskan, termasuk ukuran-ukuran yang digunakan dengan meteran khusus untuk penghitungan.
“Sedikit sekali hanya beberapa persen yang tahu mungkin tentang itu, ada ukuran-ukuran [tempat khusus untuk persembahan atau dupa] yang harus sesuai, tetapi bagaimanapun saya mencoba memberitahu itu,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan kenaikan harga tiket pesawat akan menghambat pertumbuhan wisatawan
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 dan perjalanan sejak pagi.
Barcelona gagal mencapai 100 poin usai kalah dari Deportivo Alaves. Hansi Flick tetap puas dengan performa pemain muda Blaugrana.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.