KENAIKAN HARGA BBM : Bensin Eceran Sudah Naik, Nelayan Gunungkidul Resah

Ilustrasi nelayan. (JIBI/Harian Jogja - Antara)
19 Juni 2013 11:45 WIB Kusnul Isti Qomah Gunungkidul Share :

[caption id="attachment_417344" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/19/kenaikan-harga-bbm-bensin-eceran-sudah-naik-nelayan-gunungkidul-resah-417342/nelayan-bbm-ilustrasi-antara" rel="attachment wp-att-417344">http://images.harianjogja.com/2013/06/nelayan-BBM-ilustrasi-antara-370x246.jpg" alt="" width="370" height="246" /> Foto Nelayan
JIBI/Harian Jogja/Antara[/caption]

GUNUNGKIDUL-Kabar kenaikan BBM membuat para nelayan di Gunungkidul resah. Biaya operasional dipastikan naik dan nelayan merugi.

Sumargono, salah satu nelayan di Pantai Baron mengatakan sudah mulai menemui pengecer yang menjual bensin Rp6.000 dan bensin campur Rp7.000 kemarin, Selasa (18/6/2013). Ia mengaku tidak memiliki pilihan untuk menolak meskipun BBM belum resmi naik.

“Kalau saya tidak mau segitu ya mereka mending tidak menjualnya. Jadi apa boleh buat. Di koperasi pun sama harganya dengan eceran di luar. Apalagi ini mau naik, pasti di koperasi atau pengecer jadinya Rp8.000-an. Apalagi kami pakainya bensin campur oli. Tambah mahal lagi,” papar dia kepada Harian Jogja Selasa (18/6/2013).

Menurutnya dengan harga bahan bakar segitu, bagi nelayan tidak akan bisa jalan. Sekali melaut, seorang nelayan harus menyediakan bahan bakar minimal 25 liter. Jumlah tersebut digunakan untuk melaut selama setengah hari mulai pukul 03.00 hingga 12.00 WIB. Kalau dikalikan misal menjadi 8000 sudah Rp200.000 untuk bahan bakar saja.

“Belum lagi kalau sampai jauh misal sampai di Parangtritis biasanya habis 40 liter sampai 50 liter. Sudah habis berapa itu? Belum ditambah makan anak buah kapal. Habis banyak. Iya kalau dapat ikan, kalau tidak?,” keluhnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah tidak memberikan kemudahan sama sekali. Berkali-kali yang kena adalah rakyat kecil. Ketika ikan ramai pun ia belum yakin bisa menutup ongkos operasional. Padahal musim-musim ini sednag musim paceklik.

“Teman-tema saya itu semuanya mengeluh. Apalagi sekarang paceklik, ada yang Cuma dapat 4-5 kilogram bahkan ada yang tidak dapat,” papar dia.

Sekretaris Kelompok Nelayan Mina Samudra, Winarto menambahkan kenaikan BBM biasanya tidak diikuti dengan kenaikan harga beli ikan dari tengkulak.

“Bensin naik, harusnya harga beli ikan juga naik. Kalau tidak ya wassalam. Nelayan pasti rugi. Pemerintah harusnya bisa memikirkan nasib rakyat kecil,” pungkas dia.