BANK SAMPAH : Awalnya Jadi Bahan Ejekan, Ternyata Diminati

26 Juni 2013 03:00 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_419592" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=419592" rel="attachment wp-att-419592">http://images.harianjogja.com/2013/06/bank-sampah-AMU-370x277.jpg" alt="" width="370" height="277" /> Foto Pengepul mendatangi Bank Sampah Mitra Insani membeli sampah yang disetor warga.
Harian Jogja/Andreas Tri Pamungkas[/caption]

Bank sampah, sudah tak asing lagi di telinga kita. Namun untuk memulai sistem pengelolaan sampah berbasis bank itu, tidaklah semudah membalikan tangan. Tahan mental menjadi salah satu modal.

Tiga bulan lalu, Atika Sri Haryati bersama lima ibu-ibu di Kampung Kauman, Kraton, Jogja mempunyai inisiatif menggagas Bank Sampah. Bekal pengetahuan pengelolaan bank sampah diperoleh dari kampung sebelah, Sorosutan, Umbulharjo, Jogja, yang lebih dulu menerapkan bank sampah.

Konsepnya, bank sampah adalah selayaknya menabung di sebuah bank. Tapi bukan uang yang disetor, melainkan sampah berupa kardus, botol, plastik, dan kertas. Masing-masing item dihargai. Pengurus menjualnya ke pengepul. Hasil penjualannya mayoritas dikembalikan ke masyarakat dengan dicatat dalam buku tabungan. Sebagian kecil ditarik untuk keperluan pengurus. Biasanya untuk kepentingan kampung atau pengembangan bank sampah itu sendiri.

Atika didaulat menjadi sekretaris bank sampah bernama Mitra Insani itu. Lokasi bank Mitra Insani itu saat ini berada di pinggir Jalan Kauman 44, memakai rumah salah satu pengurus yang merelakan halaman rumahnnya disulap menjadi tempat penyetoran sampah.

Di tempat itu, terdapat timbangan digital. Tiga meja ditata sedemikan rupa selayaknya perkantoran. Bank sampah buka setiap Sabtu mulai pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB.

Mulanya, warga yang menabung adalah lima pengurus itu sendiri. Sekalipun sosialiasi berulangkali dilakukan, minat masyarakat menabung sampah tak juga tumbuh.

Atika mengaku sempat dicibir tetangganya ketika membawa tumpukan sampah rumah tangganya menggunakan karung beras. Saat itu, ia melintasi rumah tetangga hendak menuju kantor Bank Sampah. Seketika itu pula, tetangganya itu langsung meledeknya,”Tukang rongsok lewat.”

Atika cuek saja. Belakangan, jumlah nasabah terus bertambah. Dari semula hanya lima orang, belipat menjadi 90 orang nasabah. Tidak hanya dari kampung Kauman, tapi juga dari kampung- kampung sebelah. Lokasi bank sampah yang strategis membuat warga penasaran dan memilih membuang sampah ke bank sampah tersebut. “Yang dulunya suka ngejek, ikut juga,” kata Atika.

Patungan

Awal memulai, pengurus patungan untuk membeli modal bank sampah berupa buku nasabah, spanduk, timbangan digital, dan kebutuhan lainnya. Total uang dikeluarkan Rp1 juta. Adapun untuk memperoleh harga penjualan sampah yang bagus, pengurus mensurvei terlebih dahulu. Sampah plastik dihargai Rp1.000/kg, kardus Rp1.200/kg, botol atau gelas plastik Rp1.200/kg, dan botol gelas per biji Rp500.

“Dari total pendapatan nasabah kami potong 20 persen untuk kepentingan kepengurusan dan bank sampah,” katanya Senin (24/6/2013).

Uang nasabah menurutnya akan dikumpulkan dalam setahun. Baru setelah itu mereka dapat mengambilnya. Mengapa satu tahun? Supaya hasil tabungannya besar. Namun pengurus tidak membatasi jika ada nasabah mengambilnya untuk kebutuhan mendesak seperti memenuhui kebutuhan perayaan Lebaran misalnya.

“Warga sadar, ternyata sampah bukan sesuatu yang kotor. Namun memiliki nilai ekonomis,” katanya.

Apriyati, 34, warga sekitar, mulanya menggunakan jasa tukang sampah untuk membuang seluruh sampah di rumahnya. Ia membayarsekitar Rp7.000-Rp10.000. Sampah di rumahnya cukup banyak, karena ia membuka warung di rumahnya.

Setelah menabung sampah ia tak menyangka tabungannya sudah hampir Rp100.000 meski baru mulai menabung sekitar dua bulan.