Mahasiswa UGM Gunakan Limbah Tulang Sapi Sebagai Implan Tulang Manusia

03 September 2013 12:53 WIB Mediani Dyah Natalia Sleman Share :

[caption id="attachment_443739" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/03/mahasiswa-ugm-gunakan-limbah-tulang-sapi-sebagai-implan-tulang-manusia-443738/mahasiswa-ugm-limbah-tulang-sapi" rel="attachment wp-att-443739">http://images.harianjogja.com/2013/09/mahasiswa-ugm-limbah-tulang-sapi.jpg" alt="" width="450" height="338" /> Empat mahasiswa UGM yang melakukan eksperimen limbah tulang sapi menjadi implan tulang manusia. (IST)[/caption]

Harianjogja.com, SLEMAN - Terketuk ingin meringankan beban masyarakat dibidang medis, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Diah Budiasih, Ditya Devale Rinenggo dan Raymond Win bersama mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Anggi Muhtar Pratama bereksperimen memanfaatkan limbah.

Tepatnya, limbah tulang sapi menjadi implan tulang manusia. Selama enam bulan melakukan penelitian, keempatnya berhasil membuktikan secara ilmiah jika implan tulang alternatif ini memiliki kualitas tinggi dan harga terjangkau.

"Latar belakang kami melakukan penelitian ini karena biaya operasi patah tulang mahal. Biaya mahal itu mayoritas disebabkan Indonesia belum memproduksi implan komersil sehingga harus impor dari Jerman," ujar Diah kepada Harian Jogja, baru-baru ini.

Adapun, insiden patah tulang terus meningkat seiring pertambahan angka kecelakaan lalu lintas. Fenomena ini yang akhirnya mendorong keempat sekawan berusaha mencari alternatif pembuatan implan.

Berdasarkan literatur medis, setidaknya ada dua bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai implan alternatif, yaitu cangkang telur dan tulang sapi. Keduanya dipercaya mengandung hidroksiapatit (HA) yang merupakan unsur tulang manusia. Penelitian menunjukkan senyawa tersebut dapat memicu regenerasi tulang.

Kendati demikian, keempatnya tidak ingin berhenti sampai di titik ini. Mereka ingin melakukan riset lebih lanjut demi mendapatkan senyawa yang mampu melakukan peluruhan lebih cepat dan optimal.

"Kami akhirnya memodifikasi HA dan tercipta biomaterial baru, yaitu biphasic calsium phosphate (BCP)," imbuh Vale.

Proses pengolahan implan alami ini dimulai dari pembersihan tulang sapi bagian paha yang memiliki kandungan porus alami. Kemudian materi tersebut direndam selama beberapa waktu dan diikuti pemasalan hingga suhu mencapai 1.300 derajat celsius.

Selanjutnya, tulang sapi itu dipotong dadu dengan ukuran satu centimeter. Material inilah yang akhirnya menjadi implan dalam mengatasi tulang patah.

Mereka melakukan pengujian dengan menanamkan implan itu ke dalam tubuh 20 tikus yang mengalami patah tulang. Usai pembedahaan dan pemasangan implan, setiap hari dipemantau perkembangan tikus-tikus tersebut.

Begitu melihat kondisi tulang tikus menunjukkan perkembangan positif atau sekitar 28 hari perawatan, para mahasiswa itu melakukan uji radiologis dan histologis.

Hasilnya, implan BCP itu tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan implan komersil. Dengan kata lain, implan alami tersebut terbukti efektif membantu proses regenerasi tulang yang patah.

Muhtar menuturkan, meski material ini terbukti efektif mengatasi patah tulang, tetapi keempatnya belum dapat memproduksi implan alami secara massal atau mengujikan kepada manusia. Diperlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui reaksi imunitas implan BCP ditubuh manusia.