Pasar Darurat Semin Sempit dan Sumpek

10 Februari 2014 14:13 WIB Ujang Hasanudin Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Sepi, sempit dan sumpek, itulah perasaan yang diungkapkan para pedagang pasar tradisional Semin yang sudah menempati pasar darurat pascakebakaran hebat yang melalap habis pasar tersebut akhir tahun lalu.

Meski pasar darurat sudah bisa ditempati, namun sebagian besar pedagang belum menempatinya dengan alasan tidak leluasa berjualan. Mereka lebih memilih kios-kios di samping lokasi kebakaran yang masih utuh.

Suwarsih, salah satu pedagang sayuran dan sembako mengaku saat ini menempati kios sebelah selatan pasar. Untuk menempati kios itu dia menyewa dengan harga Rp7 juta setahun dengan uang pinjaman dari bank.

Suwarsih enggan menempati kios darurat karena yang disediakan hanya satu petak dengan ukuran satu kali satu meter persegi.

“Tempatnya sempit dan sumpek,” ucap dia, Minggu (9/2/2014).

Suwarsih mengaku membutuhkan lahan jualan seluas sembilan meter persegi. Sebelum bencana kebakaran yang menghabiskan kios berikut dagangannya, Suwarsih memiliki enam los, setiap losnya berukuran tiga kali tiga meter persegi. Kerugian akibat kebakaran yang dia alami juga mencapai Rp200 juta.

Selain sempit dan sumpek, pasar darurat juga jarang pembeli berdatangan karena adanya pedagang yang menempati bagian depan Pasar Semin. Ia berharap pemerintah menertibkan pedagang depan pasar agar pembeli masuk ke dalam pasar.

“Seharusnya pedagang depan dimasukkan ke dalam semua jadi pasar darurat bisa ramai pembeli,” kata Suwarsih.

Perasaan yang sama juga diungkapkan Riyanto, pedagang jajanan pasar. Dia belum siap menempati pasar darurat karena sudah menyewa kios selama tiga bulan.

Riyanto khawatir pelanggannya pergi jika ke pasar darurat karena kondisinya masih sepi. “Kurang leluasa menyimpan barang dagangan di pasar darurat itu,” kata dia.

Sementara Riyani, pedagang pakaian baru akan segera menempati pasar darurat Rabu (12/2/2014) mendatang. Dia harus menempati pasar darurat itu karena tidak memiliki pilihan lain untuk berjualan.

Hutang bank yang harus diangsur per bulan menyebabkan dia tidak bisa berlama-lama istirahat berjualan. “Harapannya pemerintah memindahkan semua pedagang ke dalam pasar darurat supaya ramai,” harap Riyani.