PENEMUAN KAYU KUNO : Butuh 8 Orang untuk Mengangkat

13 Februari 2014 07:29 WIB Ujang Hasanudin Gunungkidul Share :

Tiga potong kayu yang diduga berusia ribuan tahun ditemukan warga Dusun Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Fosil kayu dengan berat lebih dari satu ton itu kini masih dalam penelitian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DIY. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Ujang Hasanudin

Tiga potong kayu dipajang di depan rumah Wagino, 45, penemu kayu tersebut. Jika dilihat sepintas dari kejauhan, tiga potong kayu tersebut tak jauh berbeda dengan kayu-kayu biasanya yang dipotong-potong. Serat bekas potongan maupun garis-garis kulit kayu di sekeliling kayu tersebut tak ubahnya seperti kayu kebanyakan.

Namun setelah didekati, fisik kayu itu seperti batu. Hampir tidak jauh berbeda dengan batu kalsit yang banyak ditemukan di gua-gua. Bahkan jika diterangi dengan senter akan mengeluarkan cahaya pantulan dari dalam batu tersebut.

Ukuran paling besar dari kayu itu berdiameter 70 sentimeter, dengan  garis lingkar 216 sentimeter dan tinggi  60 sentimeter. Meski dengan diameter tak lebih satu meter tiga orang tidak bisa mengangkat kayu itu. Butuh delapan orang untuk mengangkat kayu tersebut. Sementara kayu kedua berukuran lebih kecil sekitar 120 sentimeter dan 65 sentimeter.
Menurut Wagino, saat ditemukan pertama kali di aliran sungai di wilayah Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, setengah tahun lalu, ia minta bantuan delapan warga untuk memindahkan ke rumahnya.

“Dulu waktu mindahin kayu itu delapan orang juga masih berat,” kata Wagino, Rabu (12/2).
Wagino menemukan kayu itu saat dirinya sedang berjalan-jalan di sekitar sungai. Ketika menemukan kayu yang bentuknya berbeda dari kayu-kayu yang lainnya Wagino pun tertarik untuk mengoleksinya di rumah.
Setelah dibawa ke rumahnya dengan bantuan warga, Wagino melaporkan temuannya itu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul, pekan lalu. Laporan Wagino kemudian diteruskan ke BP3 DIY.

Petugas BP3 DIY pun memeriksa kayu tersebut, Selasa (11/2). “Kemarin sudah diperiksa BP3 DIY tapi hasilnya belum bisa diketahui. Katanya BP3 akan ke sini lagi untuk menguji dengan peralatan dari laboratorium,” ucap Wagino.
Wagino pun belum mendapat keterangan resmi perihal fosil kayu tersebut. Meski banyak rumor yang menyebutkan kayu tersebut berusia ratusan tahun bahkan ribuan tahun. “Ada yang bilang peninggalan ribuan tahun,” kata dia.

Wagino mengaku, tidak keberatan menyerahkan ketiga kayu yang ditemukannya jika itu termasuk peninggalan purbakala dan masuk dalam cagar budaya.
Namun jika tidak, ayah dari tiga anak ini akan mengeloksi kayu tersebut di rumahnya dengan sertifikat bebas.

Wagino memiliki hobi mengumpulkan benda-benda tradisional yang dianggap unik. Bahkan sebagian dari rumahnya sudah dijadikan sanggar budaya yang digunakan warga sekitar tempat tinggalnya mengembangkan kesenian tradisional.
Suharyono, salah satu tetangga Wagino yang turut serta mengangkut kayu itu dari sungai mengaku, baru pertama kali melihat kayu yang wujudnya mirip batu. Selain jenisnya yang unik, kayu itu sangat berat melebihi berat batu seukuran kayu tersebut. “Dulu waktu baru-baru diangkat banyak juga yang datang ke sini melihat kayu ini,” ucap Suharyono.