Bertahun-tahun Alami KDRT, Perempuan di Salatiga Pilih Pergi demi Anak
Penyintas KDRT di Salatiga memilih bercerai demi anak setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kini bekerja di luar negeri.
Harianjogja.com, BANTUL–Delapan tahun sejak bencana gempa mengguncang, Bantul baru memiliki 10 desa siaga dan tangguh bencana dari total jumlah desa keseluruhan 75 desa yang ada.
Upaya merintis desa tangguh bencana dilakukan secara terus menerus dan memperhatian banyak faktor kesiapan masing-masing desa.
Ketua Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengatakan desa tangguh bencana dirintis kerja sama langsung Badan Nasional Penanggulangan Bancana (BNPB) untuk kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana yang sewaktu-waktu terjadi. Desa tangguh bencana menuntut kesadaran masyarakat tentang perilaku menyelamatkan keluarga saat terjadi bencana.
“Pendampingan secara terus-menerus dilakukan agar desa tangguh atau desa siaga bencana ini berdaya dan menumbuhan kesadaran menghadapi bencana alam,” ujar Dwi di sela-sela menggelar kegiatan refleksi dan doa bersama peringatan delapan tahun gempa bumi 27 Mei 2006 silam di Parasamya Bantul yang dihadiri seluruh SKPD dan perwakilan ormas, Senin (26/5/2014).
Menurut Dwi tidak mudah membentuk desa tangguh karena harus memenuhui persyaratan sebanyak 20 item. Tiga dia di antaranya, desa telah memiliki peraturan desa terkat penanganan bencana, memiliki forum pengurangan risiko bencana, dan telah memetakan serta memiliki jalur evakuasi.
Diakui Dwi tidak bisa instan membentuk desa tangguh karena masyarakat harus terus senantiasa mendapatkan fasilitasi pemberdayaan, simulasi, sosialisasi penanganan bencana hingga diikuti pembentukan relawan desa.
Menurut dia, dua desa tahun ini dirintis sebagai desa tangguh yakni Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro dan Desa Wonolelo Kecamatan Pleret menyusul desa lain di antaranya Poncosari, Gadingsari, Gadungharjo, Tirtohargo, Srigading, Parangtritis. “Dua lainnya juga di kawasan selatan,” imbuh Dwi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penyintas KDRT di Salatiga memilih bercerai demi anak setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kini bekerja di luar negeri.
Mensos Saifullah Yusuf menargetkan 50 persen penduduk Indonesia masuk sistem Perlinsos Digital hingga Desember 2026.
Registrasi SIM card wajib biometrik sejak Juli 2026. Pelanggan mengeluhkan harga naik dan verifikasi wajah yang kerap gagal.
Universitas Sanata Dharma mengukuhkan 108 apoteker baru Angkatan 51. Seluruh peserta UKOMNAS PDPA dinyatakan lulus 100 persen.
Jorge Jesus masih membuka peluang Cristiano Ronaldo kembali ke timnas Portugal setelah meninggalkan pemusatan latihan.
Harga emas Pegadaian hari ini 5 Oktober 2026 untuk Antam, UBS dan Galeri 24 lengkap dengan harga jual dan buyback.