PEMBUNUHAN SLEMAN : Begini Kronologi Pembunuhan yang Dilakukan Guru Beladiri

13 Januari 2015 14:20 WIB Sunartono Sleman Share :

Pembunuhan Sleman yang melibatkan guru bela diri dan istrinya terjadi karena motif kalap.

Harianjogja.com, SLEMAN-Polres Sleman menggelar rekonstruksi pembunuhan dengan tersangka Arie Soebianto di Perum Taman Cemara Blok H-11, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Senin (12/1/2015) siang. Di rumahnya sendiri tersangka memeragakan secara nyata adegan dalam
membunuh istrinya, Sriani Pudji Rahayu.

Setelah tersangka dan korban sempat mengantar anak kedua, Maya, hingga pagar rumah, saat itulah terungkap bahwa pembunuhan dilakukan
ketika suami dan istri itu hanya berdua di rumah. Tersangka dan korban sempat terlibat obrolan di meja makan yang diperankan mulai di adegan
ke enam dalam rekonstruksi tersebut.

"Pembahasan masalah keuangan. Saya bilang [ke istri], ya sudah saya cukupi [keperluannya] setelah saya selesaikan pekerjaan di Cirebon.
Atau nanti aku pulang dari Malang aku bereskan [kebutuhan itu]," ungkap tersangka Arie saat menjelaskan kepada penyidik dalam
memperagakan adegan ke 10 dan 11 dalam rekonstruksi itu, Senin (12/1/2015).

Di saat itulah terungkap bahwa keduanya terlibat cekcok. Tersangka yang akan berangkat ke luar kota tiba-tiba naik pitam. Menggunakan
tangan kirinya dari arah samping, tersangka memukul korban hingga langsung terjatuh kepalanya di meja. Tersangka Arie yang sudah kalap,
mengangkat kepala korban yang masih berdiri kemudian memukul dengan tangan kanan sebanyak tiga kali. Pukulan seperti layaknya lawan
boxer itu mengenai bagian leher, rahang dan mulut korban. Hingga kemudian korban jatuh telentang ke lantai. Tersangka Arie masih menyasar
kepala istrinya ketika itu dengan mengangkat dan membenturkan ke lantai. Kemudian mengangkat kepalanya lagi dan mencekik dengan ibu jari
dan jari telunjuk yang membentuk huruf O. Adegan mematikan itu diperagakan Arie di urutan ke 15 hingga 22.

"Saya rasanya tidak sadar, lho ini kok mami, ada darahnya," ucapnya sembari meneteskan air mata saat memeragakan adegan tersebut.

Setelah membunuh istrinya, Arie kemudian masih menyempatkan diri menutup wajah istrinya yang berlumuran darah dengan baju tidur.
Kemudian mencuci tangannya di wastafel yang berlumuran darah. Kemudian sekitar pukul 13.20 WIB Arie meninggalkan istrinya yang tengah
terkapar itu dengan menggunakan mobil. Sekitar pukul 16.00 anak kedua tersangka baru mengetahui ibunya meninggal dunia secara
mengenaskan.

Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Dhanang Bagus Anggoro yang memimpin rekonstruksi menjelaskan pada awalnya direncanakan 36 adegan.
Tapi kemudian berkembang hingga 41 adegan.

"Fakta baru tidak ada yang signifikan, motifnya kalap karena teriakan terakhir korban, saat ngobrol di meja, korban teriak, tersangka membalik
badannya. Kebetulan tersangka guru boxer melakukan pukulan itu, pengakuannya dianggap seperti lawan," ungkapnya.

Pelaksanaan rekonstruksi berlangsung kondusif. Meski tersangka berkali-kali menangis. Seluruh keluarga korban termasuk anaknya juga
dihadirkan dalam pelaksanaan rekonstruksi tersebut. Sejumlah warga juga turut mengabadikan rekonstruksi itu dengan ponsel masing-masing.

Pukulan Mematikan Guru Bela Diri


  • Dengan membelakangi istrinya, tersangka Arie memukul dengan tangan kiri dengan posisi sebelah kanan korban yang duduk. Pukulan dilakukan¬†dengan setengah putaran sambil membalikkan badan.

  • Menggunakan telapak tangan kanan atau posisi telapak terbuka, Arie memukul istrinya mengenai leher belakang (tengkuk).

  • Menggunakan tangan kiri, Arie mengangkat kepala istrinya. Lalu bersamaan tangan kanan dengan posisi telapak mengenggam Arie memukul¬†dengan sasaran leher sebelah kanan atau rahang bawah.

  • Dengan masih posisi tangan kirinyanya memegangi kepala istrinya, Arie memukul rahang kiri menggunakan tangan kanan dengan posisi telapak¬†terbuka.

  • Pukulan terakhir yang membuat korban terjatuh yaitu dengan tangan kanan dengan telapak tangan tergenggam mengeni mulut istrinya.