MASALAH LINGKUNGAN : Sleman Butuh Polisi Sampah

18-em-BISNIS-5SampahBISNIS/ENDANG MUCHTARMENGHALANGI JALAN: Sejumlah kendaraan bermotor melintas disamping tumpukan sampah di pasar Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (18 - 09). Kantor Pemerintah kota Tangsel kewalahan mengurus sampah yang dikawatirkan menjadi tempat pembuangan akhir, namun pihaknya akan berusaha mengolah sampah menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis namun hingga kini belum terwujud.
16 Januari 2015 03:20 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Masalah lingkungan di Sleman coba diatasi dengan membentuk polisi sampah.

Harianjogja.com, SLEMAN-Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sleman, Purwanto mengungkapkan, dibutuhkan polisi sampah untuk membantu pengawasan aktivitas pembuangan dan pengelolaan sampah.

“Polisi hutan kan sudah ada. Polisi pariwisata juga. Jadi kami sedang merintis polisi sampah,” kata Purwanto kepada Harianjogja.com, Rabu (14/1/2015).

Purwanto menyatakan, pihaknya akan menindak tegas oknum yang membuang sampah sembarangan. Namun, dia tidak memungkiri bahwa lemahnya sistem pengawasan menjadi kendala utama.

“Sanksinya itu ada. Barang siapa yang membuang sampah sembarangan akan kena denda dan hukuman penjara berapa lama. Tapi selama ini memang susah pengawasannya,” ujarnya.

Purwanto berharap, rencana menggerakkan polisi sampah bisa segera terealisasikan.

“Jadi kalau ada yang membuang sampah sembarangan, nanti bisa langsung ditindak. Dasar hukumnya juga sudah ada,” papar pria yang sebelumnya menjabat sebagai staf ahli bupati sleman bidang pembangunan tersebut.

Soal kejadian banjir di Desa Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Purwanto ingin masyarakat semakin menyadari bahayanya membuang sampah sembarangan. Sampah yang menumpuk bisa menghambat aliran sungai sehingga airnya meluap dan menyebabkan banjir.

“Sungai itu bukan tempat sampah. Kami mengimbau masyarakat tidak membuang sampah di sungai maupun saluran air lainnya. Biarnya sungai dan saluran air lain tetap sesuai fungsinya yang memang untuk tempat mengalirnya air, irigasi, dan sebagainya,” ucap Purwanto.

Terpisah, Camat Kalasan, Samsul Bakri, juga meminta masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan. “Selain curah hujan yang tinggi, penyebab utama banjir di Tamanmartani kemarin adalah sampah yang menyumbat gorongan di Dusun Carikan,” ungkapnya.

Sampah yang ikut terbawa arus banjir tidak hanya mengotori jalan dan permukiman warga saja. Lahan pertanian warga pun juga terkena imbasnya. Hingga Rabu pagi, beberapa petani pun masih tampak berusaha memungut sisa-sisa sampah yang masuk ke sawah.

“Sekitar tiga hektare lahan pertanian, baik tanaman padi maupun cabai terkena dampak banjir. Sampahnya masuk ke sawah-sawah. Ini bisa jadi pelajaran agar kita lebih memperhatikan lingkungan. Tentu kita tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi,” ujar Samsul.