Antisipasi ISIS, Polda DIY Pantau Media Sosial

Aktivis Aliansi Pemuda Islam menggelar aksi dan membawa spanduk serta poster penolakan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) di Tugu Pemandengan Kota Solo, Jl. Jendral Sudirman, Solo, Jawa Tengah, Senin (23/3/2015). Aksi tersebut menyerukan ISIS bukan bagian dari ajaran agama Islam dan menolak keberadaannya di Indonesia. (Ivanovich Aldino/JIBI - Solopos)
25 Maret 2015 08:40 WIB Sunartono Jogja Share :

Antisipasi ISIS dilakukan Polda DIY dengan memantau media sosial
Harianjogja.com, SLEMAN - Kapolda DIY menegaskan bahwa tidak ada kelompok paham Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di wilayah DIY.

Meski demikian kepolisian akan memaksimalkan pemantauan dan melakukan pencegahan masuknya paham tersebut.

Kapolda DIY, Kombes Erwin Triwanto menyatakan pihaknya memang sempat mendapatkan informasi tentang keberadaan ISIS di Jogja. Kendati demikian hasil pendalaman dapat ditegaskan bahwa tidak ada ISIS di Jogja.

"Sampai saat ini belum ada, masih proses pendalaman memang informasi-informasi [tentang ISIS] ada beberapa yang masuk tapi kami belum berani mengatakan bahwa di Jogja ada," ungkapnya saat ditemui di Mapolda DIY, Selasa (24/3/2015).

Meski demikian pihaknya tengah melakukan beberapa upaya untuk menangkal masuknya paham ISIS ke wilayah DIY.

Seperti dengan memaksimalkan peran Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas). Di bawah kendali seluruh Polsek di DIY Babinkamtibmas ada di seluruh desa meski hanya satu personel.

Babinkamtibmas dapat menjadi sumber yang valid untuk mendapatkan informasi. Kemudian informasi itu ditindaklanjuti dengan melakukan pencegahan atau deteksi dini.

Tak hanya itu pihaknya mengerahkan seluruh fungsi kepolisian di DIY, serta sudah memerintahkan kepada seluruh Kapolres dan Kapolresta di DIY dalam upaya mencegah masuknya paham ISIS.

"Kami kerahkan semua fungsi kepolisian, juga Densus sendiri seluruh aparat dalam melakukan deteksi dini. Sudah kami perintahkan kepada Kapolres di DIY untuk koordinasi dengan tokoh masyarakat supaya melakukan pencegahan. Kami mengoptimalkan Babinkamtibmas karena dari Babin itu informasi dari masyarakat kita dapatkan sebagai langkah melakukan pencegahan," urai dia.

Erwin berpendapat bahwa Polisi tidak dapat bekerja sendiri untuk mencegah masuknya paham tersebut. Karena itu akan mengandeng ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat umum untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan.

Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat DIY agar memberitahu Polisi jika mendapatkan giat masyarakat yang mencurigakan dan menyesatkan.

"Menangkal itu perlu peran serta dari ulama dan seluruh komponen masyarakat untuk mencegahnya. Polisi tidak bisa sendiri," ucapnya.

Mengingat penyebaran paham ISIS dalam berbagai kasus, kata dia, juga getol melalui media sosial, maka pemantauan melalui dunia maya juga dilakukan.

Bahkan dengan adanya pelarangan menurutnya penyebar paham tersebut akan lebih protektif dalam membuat kegiatan secara nyata. Sehingga diprediksi akan memanfaatkan media sosial.

Melalui beberapa satuan yang khusus menangani IT, akan dilakukan pemantauan terhadap situs yang ditengarai menyebarkan paham ISIS.

"Kalau kita melihat penyebaran paham itu di Eropa misalnya kan lebih melalui medsos. Mereka tidak akan menampakkan secara vulgar di tengah masyarakat bahwa saya ISIS. Kecuali pada saat yang pernah ada di beberapa kota. Apalagi setelah ada pelarangan, saya kira tentu akan makin tertutup. Kalau pun ada kegiatan mereka akan lebih protektif. Kami akan masuk dengan browsing ke beberapa situs yang ditengarai menyebarkan paham tersebut," kata dia.