HARGA BBM : Harga BBM Repotkan Sopir

Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre hingga membentuk ular-ularan demi bisa membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis Premiun di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jl. Diponegoro, Kota Madiun, Jawa Timur, Senin (19/1/2015). Sebagian besar pengendara mengaku sengaja menunggu mengisi BBM saat harga Premiun turun menjadi Rp6.600 - liter sehingga mengakibatkan antrean panjang warga di sejumlah SPBU di wilayah kota dan Kabupaten Madiun. Bersamaan dengan perilaku massal itu, sebagian besar SPBU di kota da
30 Maret 2015 11:20 WIB Jogja Share :

Harga BBM yang naik turun merepotkan pengusaha dan sopir angkutan.

Harianjogja.com, JOGJA – Kenaikan bahan bakar minyak per Sabtu (28/3/2015) merepotkan bagi pengusaha angkutan yang tergabung dalam Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda). Pemerintah diminta menstabilkan harga BBM.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Organda DIY, Agus Adriyanto mengaku kerepotan dengan kebijakan harga BBM bersubsidi yang tidak menentu.

"Seharusnya ada jeda yang cukup untuk mengevaluasi harga BBM, minimal enam bulan sekali," kata Agus saat dihubungi Minggu (29/3/2015).

Menurut Agus, lembaganya baru menyesuaikan tarif angkutan umum melalui SK Gubernur DIY pada akhir Januari lalu setelah ada penurunan harga BBM. Kini, baru dua bulan pemerintah kembali menaikkan harga BBM mulai akhir pekan lalu.

Harga baru BBM bersubsidi saat ini untuk premium Rp7.400 naik dari harga sebelumnya Rp6.900 per liter. Sementara solar dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter.

Kenaikan BBM bersubsidi itu diakui Agus sudah dirasakan dampaknya bagi pengusaha jasa angkutan. Banyak taksi yang tidak beroperasi karena belum bisa mengubah argo, karena untuk mengubah butuh biaya dan waktu. Sementara untuk angkutan umum, kata Agus, sejumlah sopir sudah menaikkan tarif. Pihaknya tidak bisa melarang karena faktanya operasional kendaraan bertambah dengan naiknya harga BBM.

"Kami baru akan koordinasi dengan Pemda DIY terkait kenaikan harga BBM ini besok [hari ini]" ujar Agus.

Agus menambahkan, dampak dari tidak stabilnya harga BBM juga bisa dirasakan bagi pengelola jasa angkutan bus pariwisata. Menurut dia, pengelola bus wisata kebingungan menentukan tarif bagi pemesan yang akan menyewa untuk libur Lebaran nanti.

"Takut jika mendekati Lebaran harga BBM berubah lagi," kata Agus.