KERAJINAN GUNUNGKIDUL : Menjaga Filosofi dan Ekonomi Wayang Sada

Marsono ketika membuat wayang sada di rumahnya beberapa waktu lalu. (JIBI/Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah)
05 Mei 2015 10:20 WIB Kusnul Isti Qomah Gunungkidul Share :

Kerajinan Gunungkidul, untuk menjaga nilai seni, wayang sada tidak dijual bebas berupa wayang sada.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sada atau dalam bahasa Indonesia berarti lidi sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tulang daun kelapa ini kerap digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti sapu.

Tetapi di tangah Marsono, lidi dibentuk menjadi sosok wayang yang kemudian dikenal dengan wayang sada. Karya yang kesannya sederhana ini pun menembus pasar internasional. Meski sada dan lidi semakna, tetapi Marsono meminta wayang buatannya tidak disebut dengan wayang lidi. Kenapa?

“Namanya wayang sada dari sada. Jangan disebut wayang biting maupun lidi. Sada memiliki sebuah falsafah sendiri yakni selaras antara dunia dan akhirat,” papar perajin wayang sada di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul Marsono kepada Harianjogja.com, Minggu (26/4/2015) lalu.

Ia mengaku kerap mendapatkan pesanan satu set wayang sada. Setiap bulan, setidaknya ada satu hingga dua pesanan satu set wayang. Satu set wayang berisi 24 tokoh wayang, satu atau dua gunungan, dan geber. Satu set wayang sada ia jual seharga Rp1,5 juta. Bulan ini, ia mengakui baru melayani pemesanan dari Temanggung untuk satu set wayang.

Selain menjual wayang dalam satu set, Marsono juga melayani pembelian karakter wayang secara eceran. Harganya bervariasi mulai dari Rp25.000 hingga Rp100.000.

“Tergantung tingkat kesulitan dan ukuran wayang. Semakin rumit semakin mahal,” ungkap dia.

Menurutnya, tokoh wayang yang tingkat kerumitannya tinggi antara lain Kresna, Hanoman, Punakawan terutama Semar. Ia menjelaskan, untuk pembelian secara eceran, peminat bisa mendatangi ke rumahnya. Menurutnya, setiap bulan ada sekitar 10 hingga 20 pembeli.

“Rata-rata setiap orang membeli lima wayang,” ujar dia.

Pelanggannya tak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Beberapa turis asing yang pernah membeli wayang sada berasal dari Jerman, Belanda, Perancis, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, serta 22 negara lain.

Ada pun strategi pemasaran yang dia lakukan antara lain melalui internet, pameran, dan melalui Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar). Marsono mengaku tidak ingin menjual wayang sada di pertokoan.

“Kalau dijual bebas, nanti nilai jual dan nilai seninya akan jatuh,” ungkap dia.

Menurutnya, wayang sada yang dibuat untuk keperluan pentas berbeda dengan untuk souvenir. Untuk keperluan pentas, bagian tangan wayang dibuat dari bambu karena berbentuk pipih dan lebih kuat jika digerakkan. Sementara, untuk souvenir, seluruh bagian dibuat dari unsur pohon kelapa .Misalnya saja lidi, tali dari sabut kelapa, manik-manik dari batok kelapa dan batang serupa sumpit dari batang kelapa.

Ia menjelaskan, untuk membuat satu tokoh wayang, jumlah lidi yang dibutuhkan antara 30 hingga 50 batang lidi dan dibuat selama kurang lebih tiga jam. Namun, proses pembuatan wayang sada tidak berhenti di situ.

Wayang tersebut harus diasapi agar kering. Proses itu tak pendek, membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk mengasapi.

“Usai diasapi dicuci dan dijemur. Setelah itu dipelitur,” tutur dia.