PERMAINAN TRADISIONAL : Sodrong, Dolanan Anak Berfilosofi Luhur

Sejumlah anak saling dorong memainkan sodrong di Dusun Geden, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah. (Harian Jogja - Holy Kartika N.S)
10 Mei 2015 05:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Kulonprogo Share :

Permainain tradisional sodrong sudah jarang dimainkan. Hanya di sejumlah acara khusus, permainan zaman dahulu itu kembali muncul. Adapun, di Dusun Geden, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, permainan itu ternyata masih terjaga. Berikut kisah yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Holy Kartika N.S.

Sodrong...sodrong...
Ala nyepak...ala nyurung...
Gerger neng awak seger...

Lantunan lagu dolanan itu ramai dinyanyikan sekelompok anak yang mengenakan baju jawa peranakan. Diiringi musik gamelan, anak-anak tersebut begitu lincah menari sambil membawa tongkat bambu. Sodrong, begitu nama permainan ini disebut.

Permainan ini berasal dari kata sodoran dan surung atau mendorong. Dalam permainan tersebut, masing-masing ujung dari sebilah bambu dipegangi satu anak, dua anak atau lebih.

Setiap kubu memiliki satu gawang yang harus dipertahankan selama permainan. Sedangkan, di bagian tengah bambu dipasangi sebuah lonceng sapi atau genta yang berfungsi sebagai penentu pemenang.

Aturan permainan ini cukup unik, kedua kubu akan saling dorong-mendorong, sehingga lonceng yang digantung itu bergerak.

Tim yang kuat ditandai dengan terjatuhnya gawang lawan yang tersentuh lonceng. Bagi tim yang kalah, hukumannya adalah menggendong atau menggandeng tim yang menang mengelilingi arena permainan.

Permainan tersebut, sampai saat ini masih dimainkan sejumlah bocah di Dusun Geden, Desa Sidorejo, Lendah.  Di tengah kemajuan teknologi, permainan ini seakan kian tenggelam oleh maraknya permainan modern, baik digital maupun non digital.

Namun, di desa itu, permainan Sodrong masih terus dimainkan dan sesekali ditampilkan dalam acara tradisi atau upacara adat.

“Belum lama ini memang coba ditampilkan dalam upacara adat wiwitan. Dulu permainan ini biasanya dimainkan oleh para prajurit zaman dahulu. Kalau sekarang menggunakan bambu agar aman saat dimainkan anak tapi dulunya menggunakan tombak,” ujar Sujiyem, pengasuh dolanan anak Dusun Geden, Rabu (6/5/2015).

Suji, sapaan akrabnya, mengatakan permainan tersebut memang tak banyak dikenal. Sodrong tak sepopuler dolanan anak yang lain seperti jamuran, cublak cublak suweng atau gobag sodor.

Namun, permainan ini memiliki makna filosofi yang luhur bagi anak. Tak hanya mengenalkan anak pada permainan nenek moyang. Permainan ini mengajarkan tentang kerukunan antar teman dengan bermain secara berkelompok.

Permainan yang menggunakan bambu sepanjang empat meter itu, juga melatih kecerdikan dan kekuatan anak. Suji mengungkapkan, permainan ini juga dapat menjadi kegiatan untuk meningkatkan kebugaran jasmani pada anak-anak.

“Ada banyak nilai yang terkandung dalam permainan ini. Anak bisa belajar bersosialisasi, belajar disiplin serta memiliki nilai pendidikan. Kami coba angkat kembali, agar dolanan ini bisa dikenal luas,” imbuh guru yang mengajar di SD Patra, Lendah itu.

Bagi anak-anak permainan ini sangat menarik dan menyenangkan. Eka Adi Rahmadani, 9, mengaku, permainan ini unik karena hukumannya adalah menggendong teman yang menang. Bocah kelas dua sekolah dasar ini mengatakan, permainan ini tidak seperti permainan yang biasa dimainkan bersama teman-temannya.

“Sering main ini [Sodrong] sama teman-teman. Biasanya sepulang sekolah,” kata Eka.