KELANGKAAN ELPIJI : Operasi Pasar Dinilai Tak Efektif

Tabung elpiji 3 kg kosong menumpuk di pangkalan milik Sri Wahyuningsih di Jl. Letty Ismail No. 5, Kampung/Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo, Rabu (13/5/2015). (Moh.Khodiq Duhri/JIBI - Solopos)
26 Mei 2015 10:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Kelangkaan elpiji yang ditangani dengan operasi pasar dinilai tak efektif.

Harianjogja.com, BANTUL—Operasi Pasar (OP) gas elpiji 3 kilogram (Kg) atau gas melon yang dilakukan PT. Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) dinilai tidak efektif mengatasi kelangkaan dan tingginya harga gas bersubsidi. PT. Pertamina disarankan menggelontorkan gas melon sesuai rantai distribusi yaitu melalui pangkalan.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Bantul Sulistyanta mengatakan, OP elpiji yang digelar secara sporadis di sejumlah kecamatan memiliki kelemahan, karena hanya dinikmati segelintir orang di wilayah tertentu alias tidak merata. Gas OP hanya dinikmati warga di titik-titik pelaksanaan.

Sementara bila digelontorkan sesuai mekanisme normal yaitu dari agen ke pangkalan lalu ke pengecer, selanjutnya ke konsumen, akan lebih merata penyebarannya. Sebab, keberadaan agen dan pangkalan sudah diatur menyebar di berbagai wilayah. Jumlah agen dan pangkalan menyesuaikan jumlah rumah tangga di wilayah tersebut. "Kalau menurut saya yang jelas digelontorkan saja gasnya lewat jalur biasa, itu lebih efektif," kata Sulistyanta, Minggu (24/5).

Sulistyanta mengatakan, PT. Pertamina memang seharusnya menambah pasokan gas saat kekurangan gas bersubsidi serta tingginya harga saat ini. Pasokan barang yang melimpah otomatis akan membuat harga turun. "Persoalan harga itu masalah supply dan demand saja, kalau pasokannya melimpah harga pasti turun," ujar Sulistyanta menjelaskan.

Namun ia berharap, penambahan pasokan gas oleh PT. Pertamina saat ini tidak mengurangi kuota gas elpiji untuk Bantul tahun ini sebanyak tujuh juta selama 2015. Bila mengurangi kuota untuk Bantul lantaran adanya OP elpiji, menurutnya bakal mengancam ketersediaan gas pada akhir tahun.

"Kalau kuota Bantul dikurangi misalnya diambil untuk OP, pada akhir tahun gas akan kurang. Apalagi nanti mau Lebaran peningkatan gas semakin tinggi," jelasnya.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Bidang Elpiji Hiswana Migas DIY Dani Iswara menyatakan, lembaganya memilih melakukan OP dengan menjual gas berharga murah ke konsumen, karena Hiswana melihat hanya di beberapa daerah yang sering dilaporkan kekurangan gas. "Misalnya di Banguntapan, kenapa kami pilih di sana karena di sanalah yang dilaporkan harga gas tinggi dan langka," kata Dani.

Soal kekhawatiran Pemkab Bantul, OP mengurangi kuota gas untuk wilayah ini menurutnya tidak perlu. Sebab, gas melon yang disebar sebanyak 560 tabung dalam sehari operasi pasar merupakan kuota tambahan alias tidak mengambil jatah gas melon untuk Bantul sebanyak tujuh juta tabung, setahun.