MUSIM KEMARAU : Ketersediaan Air Bantul Sudah Berkurang 40%

Seorang petani mempersiapkan mesin diesel untuk menyedot air di Desa Cimohong, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (5/7/2015). Petani di daerah tersebut terpaksa mengeluarkan biaya tambahan Rp2 juta untuk menyewa dan membeli bahan bakar minyak (BBM) mesin diesel demi tetap bisa mengairi tanaman padi, jagung dan tebu yang mengalami kekeringan sejak dua pekan terakhir. (JIBI/Solopos/Antara - Oky Lukmansyah)
13 Juli 2015 19:21 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Musim kemarau baru beberapa pekan, namun ketersediaan air di Bantul sudah berkurang

Harianjogja.com, BANTUL-Ketersediaan air untuk pertanian di Bantul hingga pertengahan Juli ini sudah berkurang setidaknya hingga 40%.

Hal itu diakui Kabid Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul Wagiyo. Saat ditemui wartawan, Jumat (10/7/2015) siang, dirinya menjelaskan bulan ini memang merupakan rangkaian awal musim kemarau. Kemarau tahun ini diprediksikan akan berjalan lebih panjang.

Ia memprediksi puncak kekeringan di Bantul akan mulai dirasakan pada September-Oktober mendatang. Kendati begitu, ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik, selama masyarakat mematuhi pola tanam yang telah ditetapkan oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul.

Selain itu pihaknya juga mengimbau kepada petani yang berlokasi di kawasan hulu untuk tidak bersikap arogan dalam menggunakan air. Untuk itu, pihaknya akan meningkatkan intensitas pengawasan di sektor hulu.

"Kami juga akan terus memonitor debit air," ucapnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga berharap kepada petani untuk tidak menanam komoditas padi selama musim kemarau. Pasalnya, musim kemarau sebenarnya bisa dimaksimalkan dengan menanam palawija.

Untuk mengantisipasi kekeringan tahun ini, pihaknya telah menyiagakan enam unit pompa yang akan dipasangnya di enam titik, yakni Karangploso Kiri yang bendungnya ada di Piyungan, Bulak Bawuran Pleret, Kretek, Poncosari, Parangtritis (selatan jembatan kretek) dan Trimulyo Jetis.

"Contohnya di kawasan Karangploso, kami terima laporan debit airnya berkurang hingga 50 persen," ucapnya.

Ia menyebutkan Bantul memiliki setidaknya 18 orang juru air dan lima orang pengamat. Selain itu, sebagai penjaga pintu air, pihaknya membutuhkan setidaknya 100 tenaga lapangan untuk mengantisipasi permintaan pembuka-tutupan pintu air setiap harinya.

Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul mengklaim hingga kini belum ada lahan pertanian yang kekurangan pasokan air.

Kepala Dipertahut Bantul Partogi Dame Pakpahan, hingga kini pihaknya memang belum menerima laporan terkait kekeringan itu. Kendati begitu, pihaknya telah mengambil langkah antisipasi dampak kekeringan bagi lahan pertanian dengan menyiapkan belasan pompa air dengan kekuatan cukup besar.

Ia memperkirakan, sampai saat ini pasokan air kemungkinan masih memadai untuk mencukupi kebutuhan tanaman di lahan pertanian.

Meski mengalami penurunan, pasokan air masih bisa mencukupi karena sebagian besar petani saat ini sudah menanam palawija.

"Kalau palawija memang kebutuhan airnya lebih sedikit. Tetapi petani kami memang masih ada yang nekat menanam padi, di daerah tertentu," terangnya.

Dampak kekeringan tahun ini kemungkinan lebih terasa dibanding dengan sebelumnya karena adanya badai El-nino yang menerjang wilayah DIY.

Namun demikian, ia memperkirakan dampak kekurangan air ini akan terasa mulai bulan depan. Saat ini, kebutuhan air dari petani masih bisa tercukupi dari saluran irigasi ataupun sumur yang mereka buat di sawah.

"Itulah sebabnya, kami sudah menyiapkan belasan pompa air yang bisa dimanfaatkan petani dengan sistem sewa tanpa batas waktu," ujarnya.