DEMAM BERDARAH SLEMAN : Puncak Musim Hujan, Jumlah Pasien Naik

Petugas melakukan pemeriksaan trombosit darah sumbangan para donor di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/1/2016). Kendati bernama unit donor darah, unit PMI Jombang itu sejatinya membidangi transfuse darah, bukan semata-mata menghimpun donor darah. Sejak beberapa pekan terakhir, permintaan trombosit di unit yang mebindangi transfusi darah di PMI setempat naik dari 10 katong/hari menjadi 25-30 kantong - hari, Peningkatan kebutuhan darah itu ditengarai untuk kebutuhan pasien dem
05 Februari 2016 17:20 WIB Redaksi Solopos Sleman Share :

Demam berdarah Sleman perlu diwaspadai untuk mencegah hal tak diinginkan.

Harianjogja.com, SLEMAN - Masyarakat diimbau dapat mengenali gejala awal dan tanda-tanda orang terserang demam berdarah dengue. Upaya ini dapat menekan risiko kematian.

"Selama ini adanya penderita demam berdarah dengue (DBD) banyak disebabkan karena terlambat dibawa ke rumah sakit dan tidak mendapat penanganan medis yang tepat," kata Kepala Humas Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) DR Sardjito Yogyakarta Trisno Heru Nugroho, Kamis (4/2/2016 seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, masyarakat juga diimbau untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) diantaranya dengan melakukan 3M yakni, menguras, mengubur dasn menutup.

"Lebih utama lagi jika mendapati seseorang dalam kondisi panas tinggi, harus secepatnya dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap agar tidak terlambat mendapatkan pertolongan," katanya.

Ia mengatakan, memasuki puncak musim hujan ini jumlah penderita DBD yang masuk ke RSUP DR Sarjito Yogyakarta mengalami peningkatan cukup tajam.

"Dalam satu bulan terakhir ini ada 29 pasien penderita DBD, dengan satu pasien meninggal dunia, dan satu pasien dalam kondisi kritis," katanya.

Heru mengatakan, pada 2015 ada 241 pasien DBD, dan 28 pasien diantaranya meninggal dunia. Tingginya angka kematian akibat DBD karena pasien terlambat datang ke rumah sakit atau sudah masuk pada fase kritis.

"Selama ini mayoritas pasien DBD yang dirawat di RSUD DR Sardjito Yogyakarta merupakan anak-anak dan sebagian remaja serta dewasa," katanya.

Sementara itu di Kabupaten Sleman sampai dengan akhir Januari sudah terjadi DBD dengan jumlah 12 Kasus dengan catatan satu orang meniggal dunia di Kecamatan Seyegan.

"Kasus positif DBD di Sleman tercatat ada 12 kasus yakni di Kecamatan Kalasan lima kasus, Kecamatan Sleman satu kasus, Kecamatan Godean tiga kasus dan Kecamatan Depok dua kasus. Sedangkan ada 2015 diketemukan 520 orang terkena DBD, dengan kasus sembilan orang meninggal dunia," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini.