PERTANIAN KULONPROGO : Pemkab Tak Mampu Tambah Luas Tanam Padi, Ini Alasannya

08 Februari 2016 07:20 WIB Redaksi Solopos Kulonprogo Share :

Pertanian Kulonprogo untuk irigasi belum tersedia hingga ke seluruh lahan.

Harianjogja.com, KULONPROGO - Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, tidak mampu meningkatkan luas tanam padi dari 10.000 menjadi 13.000 hektare pada 2016 karena jaringan irigasi belum tersedia ke lahan milik petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertan) Kulonprogo Bambang Tri Budi Harsono mengatakan pemerintah pusat dengan program operasi khusus berupaya meningkatkan luas tanam.

"Di DIY ditargetkan 113.000 hektare pada 2016, tapi kemampuan setelah dilakukan kalkulasi hanya 109.000 hektare. Jadi, untuk mencapai target 113.000 hektare harus ada upaya khusus, salah satunya meningkatkan indek pertanaman (IP)," kata Bambang seperti dikutip dari Antara, Minggu (7/2/2015).

Ia mengatakan di Kulonprogo untuk mencapai target luas tanam 13.000 hektare, yakni dilakukan dengan cara mencetak sawah baru. Tapi untuk cetak sawah baru, luasannya juga relatif kecil. Pada 2015, pemkab hanya mampu cetak sawah baru seluas 55 hektare, kalau dua kali tanam hanya 110 hektare.

"Dari target 113.000 hektare - 109.000 hektare, masih kurang 4.000 hektare. Masing-masing kabupaten di DIY dibebani penambahan luas tanam 1.000 hektare. Ya, cukup berat. Kalau tidak cetak sawah, luasan lahan yang ada sudah maksimal. Kalau pun dituntut harus tersedia, kami harus mencetak sawah baru seluas 500 hektare. Kami terkendala anggaran dan irigasi ," kata Bambang.

Bambang mengatakan pihaknya siap mencetak sawah baru seluas 104 hektare dengan syarat pemerintah provinsi atau pusat memberikan anggaran pembanguan infrastruktur irigasi pada 2016. Potensi cetak sawah baru rencananya di Desa Sidomulyo seluas 50 hektare dan Desa Donomulyo 54 hektare.

"Potensi cetak sawah baru masih dapat bertambah lebih dari 104 hektare, tapi terkendala infrastrutrur jaringan irigasi," kata Bambang.

Ia mengatakan Dispertan telah mengidentifikasi potensi cetak sawah baru dan telah menyusun Survei Investigasi Desain (SID) lahan. Berdasarkan identifikasi dan SID, cetak sawah di Sidomulyo seluas 50 hektare membutuhkan infrastruktur jaringan irigasi yang biayanya Rp6 miliar.

"Kalau hitung-hitungan investasi, cetak sawah seluas 50 hektare dengan biaya Rp6 miliar, akan kembali modal dalam satu tahun. Misalnya satu kali panen menghasilkan 500 ton dan harga gabah kering giling Rp4.000 per kg, maka sekitar Rp2 miliar setiap kali panen," katanya.

Selain di Sidomulyo, lanjut Bambang, potensi cetak sawah baru di Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan seluas 54 hektare. Namun, membutuhkan infrastruktur irigasi 300 meter. Irigasi nantinya akan dibuat Talang di Pedukuhan Lengkong dan air yang ditalang berasal dari Kalibawang, serta jaringan irigasi sepanjang dua kilometer. Anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp45 miliar.

"Informasinya, Kementerian Pertanian siap memberikan bantuan anggaran cetak sawah baru sebesar Rp100 miliar. Namun, hingga saat ini kami belum mendapat kepastian," katanya.