UN 2016 : Dua SD Belum Dapat Jadi Penyelenggara, Ini Penyebabnya

Ilustrasi Ujian Nasional(JIBI/Harian Jogja - Antara)
13 Februari 2016 16:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

UN 2016 dipersiapkan diunas dengan memeriksa akreditasi masing-masing sekolah.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Setidaknya dua SD dinyatakan tidak dapat menyelenggarakan ujian sekolah secara mandiri di Kulonprogo. Sebab keduanya belum mengantongi akreditasi.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Kulonprogo, Sumarsana mengatakan, calon peserta ujian sekolah SD/MI tahun ini mencapai 5.794 orang dari 362 sekolah.  Namun, SD/MI yang bisa menjadi penyelenggara hanya 360 sekolah. Dua sekolah yang belum bisa jadi penyelenggara adalah SDIT Mutiara Insani, Nanggulan dan SDIT Ibnu Abbas, Kalibawang.

Sumarsana mengungkapkan, calon peserta di SDIT Mutiara Insani sebanyak 15 orang, sementara siswa kelas VI SDIT Ibnu Abbas mencapai 14 orang. Meski demikian, bukan sedikitnya jumlah calon peserta yang menjadi pengganjal.

“Sekolah ini belum punya akreditasi, sedangkan akreditasi baru bisa didapatkan ketika sudah ada lulusan. Padahal, mereka baru pertama kali ikut ujian tahun ini,” kata Sumarsana, Jumat (12/2/2016).

Ujian sekolah SD/MI dijadwalkan pertengahan Mei mendatang. Mata pelajaran yang diujikan ada tiga, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sumarsana berharap, seluruh sekolah telah menyiapkan siswanya, baik dari sisi kemampuan akademis maupun psikologis.

Kepala MI Ma’arif Pagerharjo, Samigaluh, Siti Anisah mengatakan persiapan yang dilakukan dalam menghadapi ujian sekolah adalah mengadakan tambahan jam pelajaran sepulang sekolah. Sebagai madrasah, Siti juga menyiapkan siswanya untuk mengikuti ujian pendidikan agama.

“Ada mata pelajaran Al-Quran, fikih, akidah, bahasa Arab, dan sejarah kebudayaan Islam. Nanti soalnya dari Kemenag,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (11/2/2016) kemarin.

Ada 22 orang yang tercatat sebagai calon peserta ujian sekolah di MI Ma’arif Pagerharjo. Siti mengaku siswanya tidak pernah mengeluh kesulitan mempelajari mata pelajaran tertentu. Mereka antusias mengikuti tambahan jam pelajaran. Dia hanya berharap para orang tua juga mendampingi siswa belajar di rumah. Kesehatan siswa juga perlu diperhatikan dengan memberikan makanan bersih dan bergizi agar tidak jatuh sakit saat hari ujian.