BALITA KURANG GIZI : Ribuan Balita di Sleman Mengalami "Stunting"

22 Februari 2016 17:10 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Balita kurang gizi mencapai ribuan jumlahnya di Sleman

Harianjogja.com, SLEMAN– Ribuan balita mengalami stunting (tubuh pendek) sehingga pertumbuhan badan anak tidak berkembang baik. Asupan gizi yang buruk menjadi salah satu penyebabnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Mafilindati Nuraini menjelaskan selama 2015 tercatat 7.053 atau 2,86% dari 54.859 balita stunting. Penyebab utama pertumbuhan tubuh balita tersebut tidak normal adalah asupan gizi yang buruk.

"Asupan gizi yang diberikan tidak memadai akibat pola asuh yang diterapkan orangtua," kata Linda sapaan akrab Mafilindati, Minggu (21/1/2016).

Penerapan pola asuh yang salah, katanya disebabkan banyak hal. Salah satunya, karena kesibukan ibu bekerja sehingga tidak memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi.

"Kesibukan ibu ini menjadi salah satu faktor utama terjadinya stunting pada anak. ASI tidak diberikan secara eksklusif," jelasnya.

Dia menerangkan, untuk mendapatkan gizi yang ideal, bayi harus diberi ASI ekslusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, baru bisa diberi makanan pendamping ASI. Sayangnya, seringkali anjuran tersebut diabaikan atau tidak dilakukan para ibu dengan berbagai alasan.

"Selain sibuk bekerja, ada juga yang takut keseksiannya hilang. Padahal, di negara-negara barat sana, pemberian ASI eksklusif sudah menjadi tren," tandasnya.

Terkait kasus stunting pada anak tersebut, lanjutnya, proses penanganannya cukup panjang. Di mulai dari kehamilan sampai anak berusia dua tahun atau 1000 hari awal sejak anak dilahirkan. Dia mengingatkan agar para ibu atau calon ibu mempersiapkan proses kehamilannya dengan baik.

"Pastikan kesehatan janin sejak awal dalam kondisi baik. Ibu hamil juga harus menjaga asupan gizi selama mengandung. Lakukan pemeriksaan secara berkala," ujarnya.

Untuk menekan terjadinya kasus stunting, Dinkes melakukan sejumlah hal. Mulai penyuluhan tentang bayi stunting di setiap Puskesmas, pemberian pelatihan kepada petugas Puskesmas, dan kampanye pentingnya pemberian ASI ekslusif.