DEMAM BERDARAH SLEMAN : Dua Bulan, 3 Warga Tewas Akibat DBD

Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung memberlakukan status Siaga I Demam Berdarah menyusul meninggal dunianya seorang pasien anak penderita demam berarah dengue (DBD) dan meningkatnya jumlah penderita akibat penyakit tersebut. Alkibat endemi DBD Tulungagung itu, pasien yang menjalani perawatan akibat penyakit itu di ruang Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (15/1/2016), membanjir. (JIBI/Solopos/Antara - Destyan Sujarwoko)
28 Februari 2016 04:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Demam berdarah Sleman mengakibatkan tiga orang meninggal.

Harianjogja.com, SLEMAN- Dalam kurun waktu dua bulan, tiga warga Sleman meninggal dunia akibat serangan demam berdarah dengue (DBD). Sementara tercatat sudah 140 orang yang terserang penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Mafilindari Nuraini mengungkapkan, kasus penderita DBD terus meningkat dalam dua bulan terakhir. Jika selama Januari hanya tercatat 29 kasus, hingga akhir Februari angkanya meningkat drastis.

"Sampai saat ini tercatat 140 kasus pasien DBD dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai tiga orang," kata Linda, sapaan akrabnya saat dihubungi Harianjogja.com, Jumat (26/2/2016).

Menurutnya, ketiga pasien yang meninggal dunia tersebut mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS). DSS merupakan sindrom syok yang terjadi pada penderita DBD. Penderita mengalami kebocoran plasma yang dapat berakibat fatal pada pasien.

Penderita DSS ini bisa meninggal dalam hitungan jam karena menimbulkan komplikasi pada ginjal, paru dan jantung. Makanya, Dinkes mengkategorikan DSS memiliki risiko kematianya sangat tinggi. "Makanya DSS ini tergolong berat dan sifatnya gawat darurat," ujarnya.

Proses berkembang dari DBD menuju DSS tergolong singkat. Selama hari pertama hingga hari ketiga, lanjutnya, pasien masih bisa disebut DBD. Tapi jika hingga hari keempat belum tertangani, kondisi pasien sudah kritis dan mudah terkena DSS. Jika masuk taraf DSS pasien sulit tertangani. Hal ini dikarenakan virus akibat gigitan nyamuk menyerang pembuluh darah.

"Kami berharap agar warga untuk lebih waspada. Sebab, penyakit yang membahayakan ini sulit dideteksi. Makanya harus hati-hati," ujarnya.

Menurutnya, musim penghujan dan lingkungan yang kotor meyebabkan angka penderita DBD di Sleman meningkat. Apalagi, hampir semua kecamatan di Sleman masih belum memenuhi standar angka bebas jentik (ABJ) 95%. Untuk menekan angka persebaran jentik, Dinkes pun kembali menggalakan Gerakan Jumat Bersih bersama Tim Pokjanal DBD hingga April mendatang. "Peningkatan capaian ABJ membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat. Terutama untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3MP+ rutin minimal seminggu sekali," ujarnya.

Kepala Humas RSUP Dr. Sardjito mengatakan, selama Januari terdapat 28 pasien DBD yang ditangani. Dari jumlah tersebut, satu anak laki-laki berusia enam tahun dari Margoluwih, Seyegan Sleman meninggal dunia. Sementara, pada Februari tercatat 26 pasien DBD dengan dua pasien mengalami DSS.

"Satu pasien meninggal, anak perempuan berusia delapan tahun," kata dia.