WARGA TOLAK TPAS : Massa dari Gedangsari dan Gantiwarno Tutup Akses Masuk ke TPAS Jogoprayan

Warga berkumpul di area TPAS Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten untuk melakukan aksi penolakan terhadap pembangunan fasilitas itu di daerah perbatasan, Kamis (26/5/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
26 Mei 2016 18:09 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Warga tolak TPAS terjadi TPAS Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Ratusan massa menutup pintu masuk ke kawasan Tempat Pembuangan Akhir Sementara (TPAS) di Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten secara paksa. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap aktivitas pembuangan sampah di wilayah perbatasan.

Pantauan yang dilakukan Harianjogja.com, Kamis (26/5/2016), sejak pagi warga sudah mulai berkumpul di lokasi TPAS. Aksi ini tidak hanya dilakukan oleh warga dari wilayah Gunungkidul, khususnya yang tinggal di Desa Sampang dan Watugajah, Gedangsari.

Pasalnya warga dari Desa Jogoprayan dan Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, juga ikut melakukan penolakan.

Warga protes terhadap lokasi TPAS dan aktivitas pembuangan sampah di kawasan itu. Aksi ini dilakukan dengan menutup pintu masuk TPAS dengan menggunakan potongan-potongan pohon bambu.

Aksi ini dijaga ketat oleh petugas kepolisian dari Polsek Gedangsari dan Gantiwarno, karena dari sisi kewilayahan merupakan daerah perbatasan antara Gunungkidul dengan Klaten.

Salah seorang warga Dusun Tamansari, Desa Watugajah, Kecamatan Gedangsari, Sugiman mengatakan, lokasi TPAS memang berada di wilayah Klaten, namun dampaknya dirasakan oleh warga Gunungkidul khususnya di desa Sampang dan Watugajah, Gedangsari.

Hal itu terjadi karena lokasinya berada di perbatasan dengan wilayah DIY, apalagi akses jalan yang digunakan masuk Gunungkidul. Penolakan ini makin terlihat karena lokasi TPAS dengan pemukiman warga hanya berjarak sekitar 100 meter.

“Kami tidak setuju di daerah kami ada TPAS, karena dampaknya akan sampai anak cucu kami ke depan,” kata Sugiman, kemarin.

Dia mengakui, meski aktivitas pembuangan baru berlangsung selama satu minggu, namun dari lokasi itu sudah menimbulkan bau yang tak sedap. Dia pun berharap agar segala aktivitas pembuangan bisa dihentikan sehingga tidak menggagu kegiatan warga.

“Kalau bau jelas kami terganggu. Memang lokasinya berada di wilayah Klaten, tapi dampaknya yang merasakan kami warga Gunungkidul,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Watugajah Dwi Ratna mengatakan selain melakukan aksi protes, warga di Desa Watugajah juga sudah menutup jalan. Tujuannya agat truk sampah tidak masuk.

Hanya saja, kata dia, upaya ini tidak efektif. Truk-truk sampah tetap masuk, tapi dengan cara lewat jalan yang lain. “Sampai kapan pun kami akan menolak. Saya melihat, warga yang menolak tidak hanya Desa Watugajah dan Sampang, karena warga dari Jogoprayan dan Karangturi [Kecamatan Gantiwarno] juga melakukan hal sama,” ujarnya.