KULINER SLEMAN : Panganan Tradisional Sleman Disuguhkan di Fesbukul

Kelompok Kesenian Topeng Ireng Merapi saat tampil dalam Festival Budaya dan Kuliner di Taman Kuliner Sleman, Jumat (27/5/2016). (Abdul Hamied Razak/JIBI - Harian Jogja)
28 Mei 2016 22:22 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Kuliner Sleman beragam disuguhkan dalam sebuah festival.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Beragam jenis kuliner tradisional di Sleman disuguhkan dalam Festival Budaya dan Kuliner (Fesbukul) Sleman 2016 di Taman Kuliner Condongcatur, Jumat (27/5/2016). Festival tersebut digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) selain memperingati satu abad Kabupaten Sleman, juga untuk kampanye budaya dan panganan tradisional ke masyarakat.

Kepala Disbudpar Sleman, AA Ayu Laksmi Dewi mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk mengenalkan kembali potensi kuliner di Sleman. Event tersebut juga menjadi sarana ekspresi bagi para penggiat usaha kuliner baik yang sudah dikenal maupun belum dikenal masyarakat.

"Kami berharap Fesbukul ini dapat menumbuhkan kembali rasa cinta masyarakat terhadap kuliner lokal," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Selain diisi berbagai atraksi budaya dari kelompok kesenian di Sleman, sekitar 40 stan kuliner ikut dihadirkan dalam Fesbuku tersebut. Sebagian besar di antaranya dikenal masyarakat mulai tongseng kambing Pak Kribo asal Pakem, entok slenget Kang Tanis asal Turi, aneka jejamuran dari Merapi, jadah aneka rasa khas Kaliurang, olahan belut asal Godean, bakmi Jombor, ayam goreng kalasan, lemet katul dan lainnya.

Festival dibuka oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun. Festival tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menemukan ragam kuliner di satu lokasi.

"Ini juga bagian dari kampanye pemerintah untuk memasyarakatkan kembali kuliner-kuliner tradisional di tengah perkembangan zaman dengan aneka ragam menu modern," katanya.

Menurutnya, masyarakat saat ini mulai banyak melupakan panganan tradisional dan beralih ke makanan modern yang dinilai bergizi. Padahal, kata Muslimatun, makan-makanan bergizi tidak harus yang mahal-mahal. Semisal steak daging. Menurutnya, steak daging bisa diganti dengan steak tempe atau steak tahu yang nilai gizinya cukup tinggi.

"Kuliner tradisional itu beragam dan kandungan gizinya banyak. Dari sisi harga lebih terjangkau dengan citarasa tinggi. Jadi masyarakat masih perlu banyak diedukasi untuk mencintai kuliner-kuliner tradisional," kata dia.