Advertisement
WISATA KULONPROGO : Menjelajahi Reruntuhan Kompleks Pabrik Gula Sewu Galur
Advertisement
Wisata Kulonprogo berikut mengenai bangunan peninggalan zaman Belanda
Harianjogja.com, KULONPROGO -- Sejumlah bangunan dengan arsitektur khas kolonial ditemukan dengan cukup mudah di Dusun Sewu Galur, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, Kulonprogo. Wilayah tersebut tercatat pernah menjadi kompleks pabrik gula pada zaman penjajahan Belanda.
Advertisement
Berdasarkan informasi yang tercantum dalam ensiklopedia budaya Kulonprogo, Pabrik Gula Sewu Galur diketahui berdiri sejak 1881. Usaha tersebut berkembang dengan cukup baik. Beberapa fasilitas untuk mendukung kebutuhan operasional pabrik pun dibangun secara bertahap, seperti jalur kereta api, sekolah, hingga rumah-rumah dinas untuk pejabat dan pegawai.
Namun, krisis yang melanda dunia pada kisaran tahun 1931 hingga 1935 juga berpengaruh terhadap kegiatan operasional pabrik gula di Sewu Galur yang kemudian tidak sanggup lagi meneruskan usaha. Lalu lintas jalur kereta api yang dibangun otomatis menjadi sepi.
Dalam ensiklopedia budaya Kulonprogo, disebutkan banyak rel kereta api yang dibongkar pada masa pendudukan Jepang, khususnya sekitar tahun 1943-1944. Akibatnya, jalur kereta api jurusan Kota Jogja – Pundong dan Palbapang – Sewu Galur pun berakhir.
Kondisi tersebut semakin parah pada masa perang kemerdekaan II di tahun 1948-1949. Banyak pabrik gula di Jogja, termasuk Sewu Galur yang dihancurkan tentara Indonesia sebagai bagian dari taktik bumi hangus. Bangunan-bangunan pabrik yang kokoh diharapkan tidak djadikan markas tentara Belanda.
Beberapa rumah dinas yang dibangun sekitar tahun 1918 masih bisa dilihat masyarakat hingga saat ini. Bangunan kuno itu memiliki desain arsitektur khas kolonial, seperti facade yang simetris, dinding tebal dan kokoh, ukuran pintu dan jendela yang besar, hingga soal ketinggian plafon. Bagian rumah umumnya terdiri dari ruang induk, kamar pembantu, kamar mandi, dan paviliun belakang. Namun, beberapa diantaranya sempat mengalami kerusakan akibat gempa 2006 lalu sehingga telah mengalami renovasi.
Salah satu warga Dusun Sewugalur, Sunarti mengaku merasa nyaman meski tinggal di bangunan lama peninggalan Belanda. Menurut dia, sisa-sisa reruntuhan kompleks pabrik gula sudah banyak yang hilang karena pembangunan rumah-rumah baru. Namun, ada pula bekas rumah dinas yang masih layak dipakai dan tetap dilestarikan sebagai cagar budaya.
“Saya kurang tahu sejarahnya tapi ini dulu rumah Londo [orang Belanda],” kata Sunarti, Kamis (23/6/2016) kemarin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Fee 5 Persen dan Ancaman Mutasi Terkuak di Sidang Abdul Wahid
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
- Kelelahan, Polisi Kapospam Tugu Jogja Meninggal Dunia Saat Bertugas
- Posko THR Bantul Terima 20 Aduan, 5 Kasus Dilimpahkan ke Provinsi
- Volume Sampah Libur Lebaran di Jogja Terkendali, Naik Tipis 7 Persen
Advertisement
Advertisement



