PENCEMARAN SUNGAI : Ribuan Ton Sampah Cemari Sungai di Bantul

01 Oktober 2016 14:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Pencemaran sungai di Bantul terjadi akibat sampah menumpuk

Harianjogja.com, BANTUL- Ribuan ton sampah mencemari sejumlah sungai di Bantul akibat hujan dan luapan sungai yang melanda wilayah ini selama sepekan terakhir. Aliran irigasi terancam terganggu.

Kepala Seksi Operasi Jaringan Irigasi Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul Yitno mengatakan, sejak sepekan terakhir lembaganya bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS) DIY berjibaku membersihkan sampah yang menumpuk di bendungan irigasi.

Hasilnya kata dia, tiap bendungan terdapat sampah 240 hingga 250 meter kubik. Tiap satu meter kubik sampah rata-rata setara dengan setengah ton sampah. Di Bantul ada lebih dari tujuh bendungan yang  menjadi area tumpukan sampah. Artinya ada lebih dari 1.000 ton sampah yang kini mencemari sungai dan tertahan di bendungan.

“Kalau kami sendiri tidak mampu membersihkan makanya dibantu oleh petugas dari BBWS sampai 40 orang,” kata Yitno, Jumat (30/9).

Pembersihan sampah antara lain dilaksanakan di Bendungan Mejing, Klegen, Merdiko, Timbulsari, Gempolan dan Sikluwih. Pembersihan, kata dia, memprioritaskan lokasi yang paling parah terdapat sampah. Bendungan itu tersebar di aliran sungai Code dan Winongo. Pembersihan sampah dilakukan secara bertahap.

Bersambung halaman 2

Selama ini kata dia, Sungai Winongo dan Code paling sering tercemar sampah. Pencemaran tersebut menurut Yitno dilakukan oleh warga yang tinggal di hulu sungai seperti Kota dan Sleman. ”Ini kan sampah-sampah yang datangnya dari Kota dan Sleman. Kalau banjir banyak sampah yang hanyut,” papar dia.

Sampah tersebut berpotensi mengganggu saluran irigasi yang mengairi lahan warga apabila tidak segera dibersihkan. Sampah kata dia menyumbat aliran air irigasi, sehingga mengganggu pasokan air ke tanaman.

Namun ia mengklaim, sejauh ini belum ada laporan dari petani ikhwal terganggunya aliran irigasi akibat tertutup sampah akibat dampak hujan terus menerus yang berujung banjir.

Ketua Komisi A DPRD Bantul Amir Syarifudin mengatakan, Bantul selama ini kerap terkena imbas sampah dari Kota dan Sleman. “Itu antara lain karena faktor dari warganya yang masih sembarangan membuang sampah di sungai,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Bantul menurutnya perlu berdialog dengan Kota dan Sleman terkait persoalan sampah yang menjadi langganan setiap kali hujan deras tersebut. Pemerintah Kota Jogja dan Sleman menurutnya perlu menggerakkan organisasi-organisasi di tingkat desa seperti Karang Taruna agar membudayakan warganya untuk tidak membuang sampah di sungai.

“Kalau imbauan dari pemerintah saja tidak cukup, organisasi di desa harus digerakkan,” lanjutnya.