JUAL BELI ONLINE : Ekosistem Ekonomi Digital Terbentuk, Belanja Online Terus Meningkat

Head of Businness Partner Bukalapak, Rahmat Danu Andika, memberikan sambutan dalam kegiatan workshop "Pengembangan Pemasaran Karya Kreatif melalui Media Online" kerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Hotel Novotel, Jumat (30/9/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
02 Oktober 2016 04:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Jual beli online di Indonesia terus meningkat

Harianjogja.com, JOGJA-Seiring perkembangan teknologi dan informasi, jumlah konsumen yang memanfaatkan internet sebagai media belanja semakin meningkat. Berdasarkan data yang dimiliki Bukalapak, pada 2016 ini, jumlah pengguna internet yang melakukan belanja online mencapai 14 juta orang, sementara tahun sebelumnya hanya dua juta orang.

"Artinya penetrasi belanja online berhasil," kata Head of Businness Partner Bukalapak, Rahmat Danu Andika ditemui wartawan sebelum mengisi workshop bertajuk "Pengembangan Pemasaran Karya Kreatif melalui Media Online" kerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Hotel Novotel, Jumat (30/9/2016).

Dari peningkatan tersebut menurutnya cukup membuktikan bahwa perilaku belanja online mulai menular sehingga ekosistem ekonomi digital di Indonesia semakin terbentuk. Hal ini akan semakin didukung dengan banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia yang hingga saat ini mencapai 100 juta penduduk. Artinya, imbuh dia, lama-lama orang banyak melakukan jual beli dengan cara yang lebih efisien melalui online.

Bukalapak dan Bekraf sendiri memiliki misi sama dalam menaikkelaskan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Agar dapat bersaing di dunia global, pemasaran produk melalui media online menjadi salah satu cara agar UMKM bisa naik kelas.

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Simanjuntak mengatakan, sebagai instansi pemerintah yang bertugas membantu pelaku kreatif memiliki akses pasar, Bekraf produk UMKM tampil menarik di media online.

"Kalau sudah masuk online, masuknya sudah global. Pada saat kita tidur, Amerika sedang melek sehingga selama 24 jam produk kita terekspos," katanya.

Bersambung halaman 2

Ia berharap agar jangan sampai produk yang bagus tidak laku di pasar karena teknik foto produk yang tidak menarik.

Maka dari itu, Bekraf dan Bukalapak memberikan pelatihan kepada UMKM di Jogja terkait cara memasarkan dan mempromosikan produk dan jasa kreatif, di antaranya tentang tips foto produk, copywriting, dan promosi. Selain di Jogja, pelatihan yang dikemas dalam workshop juga dilaksanakan di Bali, Semarang, Pontianak, Palembang, dan Malang.

Sebanyak 50 pelaku usaha kreatif yang hadir dalam workshop mendapat bimbingan langsung dari para penggerak pelapak. Penggerak pelapak ini bertugas menjaring pelapak baru agar dapat bersaing di pasar online dan membina pelaku UMKM.

Ia mengakui, belum semua UMKM terkoneksi dengan cara online. Di Bukalapak sendiri baru ada 1,3 juta pelapak di Indonesia yang menjual produknya. Menurutnya angka tersebut masih terlalu kecil. Ia tidak tahu penyebab pastinya tetapi ia memprediksi hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang bisnis online.

Alasan lain karena kegagalan teknis selama menjalani bisnis online sehingga pelaku UMKM enggan lagi menjalani bisnis tersebut. "Umur juga pengaruh. Banyak pengkriya yang sudah berumur yang gaptek [gagap teknologi]. Maka keberadaan penggerak pelapak ini akan membantu mereka," jelasnya.

Salah satu pelaku usaha yang mengikuti workshop tersebut, Nurul Indah Khasanah, mengatakan selama ini ia sudah memasarkan produk abon ikannya melalui online seperti facebook tetapi belum resmi masuk sebagai pelapak di Bukalapak. Produknya juga sudah menyebar di seluruh pelosok Indonesia.

"Bukalapak kan lokal banget ya inginnya besok kalau sudah jadi pelapak, produk saya bisa sampai luar negeri," ungkap pemilik usaha Khansa Food di daerah Mlati, Sleman ini.