AIR BERSIH GUNUNGKIDUL : Warga Tegalweru Patungan agar Mesin Pompa Tetap Jalan

Salah seorang warga mengambil air dari bak penampungan hasil pengangkatan air dari sumber Cluwakan di Dusun Tegalweru, Tepus, Tepus. Foto diambil September 2016. (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
02 Oktober 2016 06:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Air bersih Gunungkidul belum bisa dinikmati warga secara menyeluruh

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Keberadaan instalasi pompa air di Dusun Tegalweru, Tepus, Kecamatan Tepus memang belum bisa dinikmati oleh seluruh warga. Namun sejumlah warga berinisiatif melakukan iuran dengan harapan mesin pompa tetap jalan sehingga instalasi tidak mangkrak atau rusak.

Sebagai daerah yang terkenal kering, masyarakat Gunungkidul melakukan berbagai cara untuk mendapatkan air bersih. Banyak cara yang dilakukan mulai dari mencari sumber air kemudian mengangkutnya dengan jeriken untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau cara yang lebih praktis dengan jalan membeli air bersih dari tangki pengakut air.

Konsekuensi dari langkah ini, masyarakat harus merogoh kocek yang lumayan, karena setiap tangkinya ditebus dengan harga di kisaran Rp100.000-140.000. Harga yang bervariasi ini sangat tergantung dengan jarak tempuh hingga kondisi geografis warga yang akan dipasok air bersih.

Bagi masyarakat Tegalweru, Desa Tepus, Kecamatan Tepus membeli air merupakan hal yang biasa di saat musim kemarau. Tak jarang pula untuk mendapatkan air bersih banyak mendapatkan bantuan dari perusahaan swasta atau kiriman dari kecamatan atau pun Pemerintah Kabupaten.

Sebenarnya di dusun ini terdapat sebuah mata air, yang oleh warga sekitar diberinama Sumber Cluwakan. Hanya saja, sumber ini terletak jauh dari permukiman warga, karena letaknya berada di pinggir laut dusun itu. Kondisi yang jauh ini belum ditambah dengan lokasi mata air berada di tebing bukit yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Bersambung halaman 2

Untuk menuju lokasi sumber juga terhitung sulit, karena warga harus turun dengan kondisi medan yang hampir vertikal dengan kedalaman sekitar 30 meter. Beruntungnya, di lokasi itu sudah dibangun bak penampungan air lengkap dengan instalasi pompa untuk menarik ke atas.

Berdasarkan cerita dari warga sekitar, instalasi itu dibangun oleh salah satu politisi asal Gunungkidul yang akan maju ke kancah politik nasional pada Pemilihan Legislatif 2014 lalu. Saat itu, ia memberikan bantuan pembuatan bak penampungan yang dilengkapi dengan mesin pompa untuk mengangkat air dari Sumber Cluwakan.

Salah seorang warga Dusun Tegalweru, Suwasno mengatakan, keberadaan instalasi pengangkatan air ini memberikan harapan warga. Namun manfaat dari instalasi itu belum sampai dirasakan oleh masyarakat secara luas. Penyebabnya air belum bisa mengalir ke rumah-rumah warga, sehingga hasilnya baru dinikmati oleh peternak atau pun warga yang sedang menggarap ladang yang tak jauh dari lokasi sumber mata air.

“Selain adanya tiga bak penampungan, pipa untuk saluran air sudah terpasang dan sampai ke dusun, tapi airnya belum juga keluar,” kata Suwasno kepada Harianjogja.com, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, air yang belum sampai ke rumah warga dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya dikarenakan kekuatan mesin pompa yang belum mencukupi.

Bersambung halaman 3

Akibatnya air yang terangkat masih berada di bak penampungan pertama. Selain itu, masalah jalur perpipaan juga menjadi kendala sendiri, di mana medan yang dilalui naik turun sehingga rawan pecah. Terlebih kondisi jalanan yang sepi di karenakn lokasinya jauh dari pemukiman warga. “Jaraknya sekitar 4 kilometer dari rumah warga,” paparnya.

Meski air belum sampai ke dusun, Suwasno mengakui jika keberadaan sumber Cluwakan sudah bisa dimanfaatkan warga. setidaknya di lokasi bak pertama, sudah ada 30 orang yang menerima manfaatnya. Keberadaan air itu biasanya digunakan untuk memberi minum ternak, mandi atau untuk kebutuhan air minum saat berada di ladang. “Ya kalau mau pulang ke rumah jauh. Jadi memanfaatkan air dari sumber itu,” ungkap dia.

Konsekuensi dari penggunaan air itu, maka warga harus melakukan iuran. Penarikan dilakukan untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar untuk mesin pompa air. Menurut Suwasno, penarikan iuran tidak dilakukan setiap bulan, karena kegiatan tersebut dilakukan saat dana yang dimiliki sudah habis untuk membeli bahan bakar.

“Iuran per orang Rp10.000. Berhubung ada 30 orang, maka setiap penarikan bisa terkumpul uang Rp300.000,” ungkapnya.

Dengan uang itu, sambung dia, dapat menutupi kebutuhan bahan bakar mesin selama tiga bulan. Biaya yang dikeluarkan itu terhitung irit, karena mesin tidak dihidupkan setiap hari, sebab baru dinyalakan saat bak sudah kosong. “Ada petugas yang jaga. Jadi saat bak kosong, mesin disel sebagai alat mengangkat air dihidupkan, setelah bak penuh mesin kembali dimatikan,” ujarnya.

Bersambung halaman 4

Meski belum bisa mencukupi kebutuhan air bagi warga secara menyeluruh, menurut Suwasno, operasional ini sudah baik. Ini lantaran untuk menghindari mangkraknya fasilitas yang telah dibangun. “Ya harapannya bisa tersalurkan ke rumah-rumah warga dan bukan hanya untuk warga yang berada di ladang saja,” kata dia.

Hal senada diungkapkan oleh Sumono, warga yang sehari-hari menggarap ladang di sekitar lokasi sumber. Menurut dia, keberadaan Sumber Cluwakan masih bisa dimaksimalkan, caranya dengan meningkatkan kapasitas mesin pompa yang ada. Hanya, untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan partisipasi dari pemerintah.

“Kalau untuk mengadakan sendiri masyarakat jelas tidak mampu, karena biaya yang dibutuhkan sangat besar. Kondisi ini belum ditambah untuk perbaikan pipa yang terpasang,” katanya.

Dia pun menyakini, jika hal itu bisa diwujudkan maka wilayah di Dusun Tegalweru tidak akan lagi kekurangan air bersih. Sebagai buktinya, saat mesin disel dihidupkan dalam beberapa jam tidak berpengaruh terhadap debit di sumber Cluwakan karena airnya tidak berkurang dan mengalir terus. “Ya kalau bisa dimanfaatkan secara maksimal maka persoalan air di musim kemarau bisa teratasi,” tuturnya.