WISATA KULONPROGO : Sampah Wisatawan Bisa Merusak Konservasi Mangrove

Kulonprogo memiliki satu lagi tempat wisata alam yang dikembangkan oleh masyarakat di perbatasan Purworejo. Jembatan Api/Api menawarkan wisata alam hutan mangrove di area anak Sungai Bogowonto.
02 Oktober 2016 02:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Wisata Kulonprogo terganggu adanya sampah wisatawan

Harianjogja.com, KULONPROGO-Sampah dari wisatawan menjadi potensi masalah terbesar yang dikhawatirkan akan merusak tanaman mangrove yang berada di kawasan Jangkaran, Temon. Pasalnya, munculnya sejumlah sampah akan merusak ekosistem serta habitat tempat mangrove tersebut tumbuh.

Kepala Bidang Kehutanan Dinas Pertanian Kehutanan Kulonprogo, Agus Hariawan mengatakan bahwa perkembangan pariwisata di sejumlah kawasan mangrove di Kulonprogo merupakan hal yang baik.

Meski demikian, hal tersebut juga sekaligus berpotensi menghasilkan masalah sampah di lokasi tersebut. “Pariwisata sebenarnya baik, tapi sejauh ini mungkin potensi masalah terbesarnya adalah sampah,” jelasnya, Jumat (30/9/2016).

Menurutnya, pengelola wisata harus menyiapkan manajemen pengelolaan sampah yang baik di sejumlah stan yang ada di kawasan tersebut. Dikhawatirkan wisatawan yang datang dengan membawa makanan atau minuman kemasan kemudian membuang sampahnya sembarangan. Harus ada kontrol dari pengelola terhadap sampah agar kemudian merusak habitat mangrove itu sendiri.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa memang diperlukan kajian khusus guna mengetahui daya tampung maksimal untuk wisata berbasis alam ini. Pasalnya, setiap lingkungan hidup memang seharusnya memiliki batasan daya tampung setiap harinya.

Bersambung halaman 2

Namun, Pemkab Kulonprogo sendiri sejauh ini belum menyusun program khusus guna menyeimbangkan aspek pariwisata dan konservasi mangrove ini. Pemantauan berkala yang dilakukan pun masih dalam tahapan normal dan belum mencakup pengawasan khusus.

Agus menambahkan bahwa kelompok kerja (pokja) mangrove yang khusus menangani keberadaan tanaman bakau ini juga telah melibatkan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) menanggapi fenomena tersebut. Kerjasama ini akan dijadikan landasan menyusun perpaduan keberadaan konservasi dan pengembangan pariwisata daerah yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepada Disparpora Kulonprogo, Krissutanto mengatakan bahwa pihaknya memang belum memiliki kajian khusus mengenai keberadaan pariwisata mangrove di kawasan Jangkaran, Temon. Namun, pihaknya telah mulai ikut serta dalam pokja mangrove. Selain itu, pembinaan kepada pengelola wisata mengenai sampah juga telah dilakukan.

Terlebih lagi, aspek kebersihan sendiri memang merupakan hal yang wajib dalam pelaksanan pariwisata di Kulonprogo. Ia juga menambahkan bahwa aspek kebersihan menjadi semakin penting dalam kaitannya dengan menjaga konsistensi ekosistem mangrove tersebut. Pasalnya, mangrove tersebut yang menjadi magnet utama yang mendongkrak pariwisata di ujung barat Kulonprogo tersebut.