KELANGKAAN ELPIJI : Warga Pelosok Beralih ke Kayu Bakar

18 Oktober 2016 20:55 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Kelangkaan elpiji di Gunungkidul membuat warga beralih ke kayu bakar

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Warga di pedalaman Gunungkidul mulai beralih menggunakan kayu bakar akibat krisis bahan bakar elpiji tiga kilogram alias gas melon. Kelangkaan gas bersubsidi itu telah dirasakan warga sejak sebulan terakhir.

Gunarto, warga Dusun Kauman, Dadapayu, Semanu, Gunungkidul ditemui Senin (17/10/2016) mengungkapkan, warga kesulitan mendapatkan elpiji karena tidak lagi tersedia di warung-warung. “Sudah sebulan ini seret,” ungkap Gunarto.

Kalau pun ada, harga satu tabung gas melon mencapai hingga Rp23.000. Gunarto tak tahu apa penyebab langkanya gas elpiji di pedalaman Semanu itu. Padahal kata dia, mayoritas warga desanya sudah menggunakan elpiji sesuai kebijakan pemerintah beberapa tahun lalu.

Lantaran tidak mendapat bahan bakar, warga mulai beralih menggunakan kayu bakar agar tetap dapat memasak. “Saya sebulan ini juga sudah pakai kayu bakar,” papar dia.

Di Gunungkidul, sebagian besar warga masih memiliki tungku perapian di rumahnya. Saat gas elpiji langka, warga dapat beralih memasak menggunakan tungku.

“Beda dengan di kota, kalau di kota sudah banyak yang tidak pakai tunggu. Di sini di rumah-rumah masih ada,” papar dia.

Bersambung halaman 2

Di sisi lain menurut Gunarto, kayu bakar sedikit banyak masih tersedia di hutan di dekat rumah. Warga memanfaatkan segala jenis kayu yang dapat dijadikan bahan bakar. Misalnya batang ubi kayu yang kerap dibuang setelah panen singkong.

“Cuma kendalanya kalau kayu bakar ini, saat hujan sulit digunakan karena basah. Harapannya gas elpiji ini lancar lagi supaya enggak bergantung dengan kayu,” papar dia.

Sardiyanto warga Dadapayu lainnya mengatakan, dirinya harus mencari gas elpiji hingga ke Kota Wonosari. Padahal jarak antara Desa Dadapayu dengan Kota Wonosari mencapai hingga 16 kilometer.

“Kalau enggak mencari sampai jauh enggak dapat,” kata Sardiyanto.

Gas elpiji sangat dibutuhkan pedagang bakso atau mie ayam. Berbeda dengan rumah tangga, masih dimungkinkan beralih ke kayu bakar, sedangkan bagi pedagang mie ayam atau bakso keliling, pilihan paling mudah menggunakan gas elpiji karena lebih mudah dibawa berkeliling.

Sardiyanto berharap, pemerintah atau PT Pertamina selaku produsen gas melon dapat menggelar Operasi Pasar (OP) gas elpiji hingga ke polosok Gunungkidul.

“Jangan hanya di kabupaten lain saja diadakan OP, di Gunungkidul juga sangat membutuhkan,” lanjutnya.

PT Pertamina pada Senin menggelar OP gas melon. Operasi Pasar antara lain dilakukan di Bantul, Sleman dan Kota Jogja.