KISAH INSPIRATIF : Pensiunan PNS Bantul Ini Tak Gentar Suarakan Pemberantasan Pungli

Ngadiyono dan mobilnya di depan Kantor DPRD, Ngadiyono Rabu (19/10/2016) siang. (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
20 Oktober 2016 14:29 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Kisah inspiratif datang dari seoragn pensiunan PNS di Bantul

Harianjogja.com, BANTUL-Saat menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS), suara lantang Ngadiyono, 63, terhadap ketidakadilan membuatnya berkali-kali dipindahtugaskasan. Bahkan tidak jarang ia mendapatkan ancaman dan juga teror.

Setelah pensiun dari PNS Ngadiyono pun tak berhenti, dia sering kali melakukan aksi seorang diri menuntut pemerintahan yang bersih.

Mengendarai mobil Toyota Terios warna putih Ngadiyono kemudian memarkirnya di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul. Mobil itu dia pasang kain waran hitam berukuran kurang lebih tiga meter persegi bertulisakan “Bro di Bantul ada tidak pungli? Banyak Mas! Pecat PNS pungli”.

Sebelum ke Kantor DPRD, Ngadiyono Rabu (19/10/2016) siang melakukan aksinya seorang diri di depan Kantor Bupati. Dengan mengenakan kemeja lengan pendek kotak-kotak dan mengenakan peci, pria berkacamata ini membagikan selebaran yang intinya meminta untuk menumpas tikus-tikus pungli dan koruptor yang ada di Bantul. Sebagai pensiunan PNS dia mengaku mengetahui banyak hal tentang praktek korupsi terutama di Bantul.

Ngadiyono menceritakan kisahnya kala pertama kali menjadi PNS pada 1975. Sebelum era reformasi, suara lantangnya terhadap ketidakadilan tak jarang berbalas acaman.

Bersambung halaman 2


Bahkan dia mengaku sering diteror dan sempat akan dibunuh akibat aksinya membuka kasus korupsi yang dialakukan atasnya di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) pada 1995.

“Pernah saya ditawari mobil agar supaya diam tapi saya tidak mau, karena kalau saya menerima itu artinya juga saya melakukan korupsi,” ujarnya.

Ancaman dan teror kala itu tak gentar membuatnya gentar. Berkat keberaniannya membongkar kasus korupsi di instansi tempat ia bekerja, atasanya, kepala DPU masa itu langsung dicopot dan dipenjara selama 18 bulan karena terbukti korupsi.

Namun keberanian tersebut tak selalu berbuah manis bagi Ngadiyono. Usai membongkar kasus korupsi dia dipindah menjadi pegawai Perpustakaan Daerah selama beberapa bulan.
Ia pensiun di Staf Penegakan Perda Satpol PP Kabupaten Bantul tahun 2012.

Tercatat memang Ngadiyono  kerap melakukan aksi seorang diri menuntut pemerintahan yang bersih. Sebelumnya pada Juli 2016 dia melakukan aksi dengan berorasi di depan gedung DPRD Bantul membentangkan spanduk yang isinya meminta para anggota dewan supaya tidak menjadi makelar proyek.

Bersambung halaman 3

Kemudian saat pengundian nomor urut Pilkada 2015 dia juga membantangkan spanduk meminta komitmen kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati saat itu menyelengarakan pemerintahan yang bersih.

Hal itu dilakukannya di tengah acara rapat pleno pengundian nomor urut di KPU Bantul. dalam sepanduknya dia tulis ”Pak Harsono-Ibu Idham, Anda Siap Jadi Bupati Bantul yang jujur tidak Korupsi? Ok”.

Pada 2014 di halaman Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY juga melakukan aksi serupa. Dia menyuarakan tentang maraknya aksi korupsi yang pada saat itu dengan bermodalkan tiga sepanduk yang bertuliskan dukungan terhadap pemberantasan korupsi.

Selain itu dia juga memberikan amplop kepada Kejati DIY yang juga berisi surat dukungan terhadap pemberantasan korupsi di DIY.

Tidak jauh berbeda aksi seorang diri juga pernah ia lakukan pada 2012 saat dirinya masih aktif sebagai PNS. Waktu itu mobil warna merah merk Toyota Hardtop miliknya, ia tulisi dengan kata-kata dukungan terhadap KPK dan SBY dalam memberantas korupsi.

Bahkan sebelumnya dia berorasi berkeliling Bantul dengan mengunakan mobil pick up yang diberi tulisan “Mobil ini dijual untuk KPK”.