Titiek Soeharto Dapat Keluhan dari Mahasiswa tentang Pemerataan Pembangunan Infrastruktur

Wakil ketua komisi IV DPR/MPR RI Titiek Hediati Soeharto saat melakukan diskusi dan sosialisasi empat pilar di gedung pertemuan Pangeran Antasari Asrama Mahasiswa kalimantan Selatan, Jumat (18/11/2016). (Yudho Priambodo/JIBI - Harian Jogja)
19 November 2016 10:20 WIB Sleman Share :

Titiek Soeharto menerima keluhan dari mahasiswa tentang pemerataan pembangunan infrastruktur

Harianjogja.com, SLEMAN- Belum meratanya pembangunan infrastruktur di daerah-daerah yang ada dipelosok Indonesia banyak dikeluhkan para mahasiswa yang mengikuti sosialisasi Pancasila oleh Titiek Soeharto di gedung pertemuan Pangeran Antasari Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat (18/11/2016).

Dalam dialog kali itu para mahasiswa meminta Titiek Soeharto bisa membawa dan mengkaji keluhan dari mereka di Parlemen dan berharap segera adanya solusi yang nyata. Para mahasiswa juga menyampaikan bahwa selain sosialisasi hal yang lebih penting adalah bagaimana implementasi dari tujuan empat pilar yang dicanangkan dapat terwujud dalam kehidupan nyata dan menyeluruh kepada para warga negara.

Salah satu perwakilan mahasiswa asal Lampung, Riyani mengutarakan bahwa keresahan akan pemerataan pembangunan infrastruktur di Indonesia sangatlah harus diperjuangkan. Ia mengatakan, bahwasanya pembangunan-pembangunan tersebut seharusnya menjadi hak rakyat yang harus diperjuangkan di parlemen.

"Masyarakat dibebani dengan pajak yang dibayarkan kepada negara, namun kenapa pembangunan infrastruktur seperti jalan saja tidak merata di Indonesia. Di Lampung contohnya, bukan hanya infrastruktur yang tidak merata namun disana fasilitas listrik bahkan kesejahteraan petani juga sangat tidak mendapat sorotan," paparnya.

Ditambahkannya, di desa-desa masih banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani justru mengalami berbagai kerugian dengan adanya program-program ekspor yang dilakukan oleh pemerintah. Kata dia, para petani di desa saat ini seringkali gagal untung karena mahalnya biaya bertani sedang harga penjualan hasil pertanian tidak sesuai.

Bersambung halaman 2, Menanggapi hal itu, Titiek Soeharto...

Menanggapi hal itu Titiek Soeharto menyatakan dirinya juga selalu mencoba menyampaikan hal tersebut saat rapat di Parlemen. Dirinya mengaku untuk permasalahan seperti yang diutarakan oleh para mahasiswa tersebut sebenarnya bermula dari sebuah permasalahan etika.

 
Menanggapi hal itu Titiek Soeharto menyatakan dirinya juga selalu mencoba menyampaikan hal tersebut saat rapat di Parlemen. Dirinya mengaku untuk permasalahan seperti yang diutarakan oleh para mahasiswa tersebut sebenarnya bermula dari sebuah permasalahan etika.

Kata dia, setiap tahun dana yang disiapkan untuk pembangunan infrastruktur selalu meningkat. Karena pada dasarnya setiap Presiden yang menjabat menginginkan adanya perubahan dan kemajuan bagi negara ini.

Sehingga, kata dia, tidak ada yang salah dengan peraturan, peran pancasila, ataupun ke Bhinekaannya. Tapi pengimplementasiannya pada diri sendirilah yang juga harus benar-benar ditekan dan direnungkan. "Sejak Reformasi, penghapusan pelajaran P4 nilai-nilai pancasila di masyarakat mulai luntur. Itu yang menjadikan kualitas beretika masyarakat menjadi kurang," katanya.

Titiek juga menjelaskan, dengan dana yang sudah disiapkan oleh pemerintah seharusnya pembangunan secara merata bisa dilakukan. Namun demikian, saat nilai moral yang ada dalam diri berkurang maka masih saja terjadi kebocoran dan tindakan korupsi saat dana itu dikucurkan dari pemerintah untuk pembangunan selalu tidak sesuai.

"Nanti akan saya sampaikan juga bahwa permasalahan ini menjadi perhatian dan sorotan dari mahasiswa. Hal tersebut sangat bagus demi kemajuan negara Indonesia," ujarnya.

Titiek juga berharap kepada para mahasiswa, jika mereka sudah mengerti permasalahan yang selama ini terjadi dan membentur kemajuan dan kesejahteraan ia berharap ke depan para mahasiswa harus belajar secara benar. Pelajaran etika dan moral harus benar-benar dijaga supaya nanti ketika menjadi tokoh dipemerintahan sudah mengerti hal-hal yang harus dilakukan untuk membangun negara ini.