Rektor UGM Miris dengan Generasi Muda yang Semakin Menjauh dari Sawah

Dua petani di Desa Gejahan, Kecamatan Ponjong sedang mencangkul sawah dalam upaya penyuburan tanah. Foto diambil, Selasa (1/9/2015). (JIBI/Harian Jogja - David Kurniawan)
23 November 2016 13:32 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Rektor UGM miris dengan kenyataan bahwa generasi muda sekarang semakin menjauhi sawah

Harianjogja.com, JOGJA - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwikorita Karnawati miris melihat fakta dunia pertanian yang sudah tidak memikat bagi generasi muda. Dari hasil penelitian, Dwikorita mengetahui, saat ini anak-anak muda sangat kurang minat di bidang pertanian.

Keterangan yang disampaikannya cukup relevan, ketika suatu kali pergi ke sawah maka yang dijumpai mayoritas orang-orang berusia di atas 40-50 tahun.

"Ini potret kalau hal tersebut hampir terjadi di seluruh Indonesia. Jika seperti ini, bagaimana pertanian akan maju karena anak mudanya sudah enggan pergi ke sawah," papar Dwikorita dalam Lokakarya dan Seminar Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKTPTI) di Fakultas Pertanian UGM, Selasa (22/11/2016).

Hal itu menurut Dwikorita, merupakan sebuah PR bagi perguruan tinggi pertanian di Tanah Air. Perguruan tinggi dituntut bisa menggelorakan kembali generasi muda untuk mencintai pertanian.

Rektor perempuan pertama UGM itu pun menyampaikan sekilas data berkaitan dengan lunturnya pertanian dalam masyarakat Indonesia.

Data perbandingan yang disampaikan Dwikorita memiliki rentang waktu 55 tahun, yakni pada 1960-2015.

Pada 1960 silam, menurut dia, sebanyak 85% penduduk Indonesia terjun dalam dunia pertanian. Sayang, setengah abad berlalu perjalanan waktu membuat sebuah perubahan sosial yang begitu besar. Di tahun 2015, jumlah tersebut tinggal separuhnya saja. Bahkan masyarakat yang tinggal di pedesaan cuma tinggal 45% saja.

"Artinya dalam kurun waktu 50 tahun lebih sudah terjadi urbanisasi penduduk desa pindah ke kota. Padahal kekuatan pertanian itu ada di desa," jelasnya.

Dwikorita pun lantas menyambut positif penyelenggaraan lokakarya dan seminar nasional FKTPI itu. Dia menganggap kegiatan yang diikuti 90 perguruan tinggi pertanian di Indonesia itu bisa memancing kembal semangat generasi muda mencintai pertanian.