INFRASTRUKTUR BANTUL : Komunikasi Porkdarwis & Pemdes Terputus, Apa Kabar Amphitheatre?

Proyek panggung terbuka (amphitheatre) Sono Seneng yang mangkrak (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
29 November 2016 09:55 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Infrastruktur Bantul, masih ada yang mangkrak.

Harianjogja.com, BANTUL -- Infrastruktur Bantul berupa proyek panggung terbuka (amphitheatre) Sono Seneng senilai Rp400 juta yang berada di Desa Wisata Srikeminut, Dusun Kedungmiri, Desa Sriharjo mangkrak. Kondisi panggung yang berbentuk tiga perempat lingkaran seluas 2.000 meter persegi kini memprihatinkan. Rumput yang tinggi, tanah becek, dan lumut yang tumbuh di sana-sini membuat aset wisata yang sejak 2015 lalu diserahkan oleh Pemerintah DIY kepada Dusun Kedungmiri itu tampak kumuh.

Ketua Badan Pemusyawarakatan Desa (BPD) Sriharjo Sismanto Purnommo menyayangkan mangkraknya aset wisata itu. Menurut dia, hal itu terjadi lantaran terputusnya komunikasi antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pengelola panggung terbuka dengan pemerintah desa.

“Pesona alam disini sudah pasti layak jadi komoditas wisata, mari kita bersatu untuk mengembangkan kawasan ini, jangan sampai ini jadi mubazir,” ujarnya, Senin (28/11/2016)

(Baca Juga : http://cms.solopos.com/?p=772231">INFRASTRUKTUR BANTUL : Mangkrak, Kolam Renang Berganti Jadi Kolam Lele)

Oleh karena itu, ia berharap agar tokoh masyarakat, warga dan pengurus Pokdarwis segera duduk bersama mencari jalan keluar. Ia khawatir jika tak segera ditangani, potensi wisata yang cukup menjanjikan itu akan semakin terbengkalai.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta yang dikonfirmasi sebelumnya, mengaku kecewa dengan tak terurusnya aset tersebut. Ia mengaku, saat membangun aset tersebut, Pemerintah DIY berharap banyak akan bergeliatnya potensi wisata di kawasan Desa Wisata Srikeminut.

“Itulah, kami membangun aset itu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, kami juga sudah berdiskusi dengan masyarakat,” ujarnya.

Semula, ia berharap keberadaan panggung terbuka itu kian melengkapi potensi wisata yang sudah ada sebelumnya di Desa Wisata Srikeminut. Seperti diketahui, sebelum adanya panggung terbuka itu, desa wisata tersebut sudah terkenal dengan dua objek wisata lainnya, yakni Air Terjun Srikeminut dan Jembatan Gantung.

Aris menambahkan, persoalan mangkraknya panggung terbuka itu seharusnya menjadi perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul. Menurutnya Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul sebagai instansi teknis seharusnya bisa melakukan pendampingan terhadap Pokdarwis di Desa Wisata Srikeminut.

“Karena kalau urusan pendampingan masih dibebankan kepada kami, jelas tidak mungkin,” ucapnya.