Javanese Diaspora Event (JDE) III Resmi Dibuka, Orang Jawa Ada di Mana-Mana

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaMami Yamamura (paling kiri), mahasiswi Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) asal Jepang berlatih tari Bedhaya Bedah Madiun di Pendapa Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu (5 - 2). Sejumlah mahasiswa asing yang sedang belajar di Solo secara berkala mengikuti latihan tari tradisional Jawa yang digelar di tempat tersebut.
18 April 2017 09:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Javanese Diaspora Event (JDE) III resmi dibuka pada Senin (17/4/2017)

Harianjogja.com, JOGJA-Javanese Diaspora Event (JDE) III resmi dibuka pada Senin (17/4/2017). Hari itu ratusan diaspora [warga keturunan] Jawa yang berasal dari berbagai negara dan wilayah di Indonesia berkumpul di Museum Benteng Vrederburg untuk mengikuti upacara pembukaan.

Pembukaan Javanese Diaspora Event ketiga ditandai dengan pemukulan gong oleh Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro di depan para peserta yang berasal dari Belanda, New Caledonia, Suriname, Malaysia, Singapura, Thailand, Sulawesi, dan Sumatera.

Ketua panitia Javanese Diaspora Event III, Indrata Kusuma Prijadi, mengatakan dibandingkan dengan penyelenggaran dua event sebelumnya, Javanese Diaspora Event III diikuti oleh lebih banyak peserta.

“Diaspora Jawa itu merujuk ke para keturunan orang Jawa yang tidak lagi tinggal di Jawa. Dalam hal ini adalah wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Mereka hadir, saling bersilaturahmi di Yogyakarta,” jelasnya.

Menurut Indrata, orang Jawa itu tersebar ke berbagai titik dunia. Ia, sambil berkelakar, menghimbau orang Jawa yang ingin pergi ke luar negeri supaya tidak khawatir akan merasa asing, karena orang Jawa ada di mana-mana. Orang Jawa yang bertemu dengan orang Jawa di luar negeri, menurutnya, akan langsung menjadi sedulur.

“Saya waktu di Malaysia tidak pernah mengeluarkan uang untuk menyewa hotel. Saat di Singapura saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk makan, karena semua sudah disediakan oleh teman-teman keturunan Jawa disana,” tuturnya saat konferensi pers setelah acara pembukaan selesai digelar.

Lebih lanjut ia mengatakan selama satu minggu ke depan akan ada 19 kegiatan seperti bazzar, pameran karya seni dari diaspora Jawa, kompetisi Stand Up Comedy, workshop batik, demo masak, pemutaran film dokumenter, bedah buku dan lain sebagainya.

Javanese Diaspora Event (JDE) III, menurut Indrata, dihadiri beberapa tokoh diaspora Jawa yang cukup dikenal di negaranya masing-masing. Diantaranya adalah Paul Salam Somohardjo yang merupakan mantan Ketua Parlemen Suriname tahun 2005 silam, Titi Amina Pardi yang adalah dubes Suriname untuk Indonesia, Hariette Mingoen [antropolog serta Ketua Stichting Comite Herdenking Javanese Immigratie Nederland], dan Thiery Timan yang merupakan Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di New Caledonia.

Sementara itu, Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro mengaku sangat senang bisa menjadi tuan rumah bagi orang Jawa dari seluruh dunia untuk bisa berkumpul dan berbagi bersama. Ia mengaku akan berkerja keras untuk memastikan setiap diaspora Jawa yang hadir agar senang dan bahagia selama berjalannya Javanese Diaspora Event III.

Dalam konferensi pers tersebut, Pangeran Wironegoro menegaskan jika Javanese Diaspora Event III bukanlah acara yang eksklusif, tapi bersifat inklusif. Hal ini dibuktikan dengan peserta yang juga berasal dari keturunan batak. “Di sini hadir pak Norman Pasaribu dan juga pak Tambunan,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi pemerintah yang mengirimkan wakilnya untuk menghadiri Javanese Diaspora Event. Menurut Pangeran Wironegoro, hal ini merupakan suatu kemajuan, karena pada penyelengaraan sebelumnya, pemerintah tidak hadir sama sekali.

Salah satu peserta, Sri Rahayu yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, mengaku sangat emosional saat mengikuti upacara pembukaan, bahkan ia sampai meneteskan air mata saat lagu Matur Nuwun Simbah dinyanyikan. Lagu ini adalah lagu tema Javanese Diaspora Event III.

Baginya, event ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa karena mengingatkan orang-orang kepada leluhur yang telah berjuang sepenuh hati agar anak cucunya bisa hidup dengan sejahtera, dimana pun berada. “Jika sekarang kita menyia-nyiakan hidup, itu sangat tidak pantas.”