SIMULASI BENCANA : Ini yang Dilakukan Warga Plarangan Ketika Terjadi Longsor Menimbun 5 Orang

Para korban mendapatkan penanganan medis dalam simulasi penanggulangan bencana longsor di Lapangan Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Rabu (26/4/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
26 April 2017 16:55 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Simulasi bencana digelar di Lapangan Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo,

Harianjogja.com, KULONPROGO- Ratusan warga mengikuti simulasi penanggulangan http://m.harianjogja.com/?p=809501">bencana longsor di Lapangan Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Rabu (26/4/2017).

Hujan berintensitas tinggi mengguyur Purwoharjo selama beberapa hari terakhir. Sebuah retakan sepanjang 400 meter kemudian diketahui muncul pada tebing setinggi 15 meter di wilayah Dusun Plarangan. Kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan longsor sehingga warga menyampaikannya kepada pemerintah desa setempat.

Koordinasi segera dilakukan di tingkat desa. Inisiatif warga untuk menutup retakan dengan menggunakan terpal pun disetujui. Langkah itu diharapkan dapat mencegah atau setidaknya mengurani potensi air hujan masuk ke retakan sehingga membuat tanah menjadi semakin labil dan rawan longsor.

Namun, hujan deras terus tejadi dalam dua hari berikutnya. Lebar retakan tanah di Plarangan terpantau bertambah hingga menjadi sekitar 40 sentimeter. Masyarakat di lokasi rawan diminta bersiap melakukan evakuasi mandiri, termasuk mengamankan barang dan dokumen berharga.

Dengan demikian, mereka bisa langsung membawanya saat bencana terjadi sewaktu-waktu. Di sisi lain, pemerintah juga melakukan koordinasi hingga tingkat kabupaten dan mempersiapkan sejumlah tenda darurat untuk pengungsian.

Pada hari yang sama, sebagian tebing longsor hingga mengenai pemukiman warga. Warga kemudian diarahkan untuk menuju lokasi pengungsian di Lapangan Desa Purwoharjo untuk mengantisipasi adanya longsor susulan.

Mereka kebanyakan datang ke pengungsian dengan berjalan kaki dan lari. Namun, ada juga yang dibantu oleh para relawan dengan menaiki pikap, terutama kalangan lansia dan anak-anak.

Sementara itu, tim evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), SAR, serta TNI dan Polri bergerak menyisir lokasi longsor. Satu per satu korban kemudian ditemukan petugas.

Sebanyak lima orang diketahui mengalami luka berat dan langsung dilarikan ke layanan kesehatan darurat yang dibuka di lokasi pengungsian. Tim juga menemukan lima korban dalam kondisi tertimbun material longsor sehingga meninggal dunia.

Petugas medis juga bekerja keras untuk memberikan pertolongan kepada warga yang mengalami luka ringan. Mereka umumnya terjatuh saat proses evakuasi sehingga mengalami luka lecet pada bagian tubuh tertentu, seperti tangan, kaki, atau kepala.

Meski begitu, semua kejadian tersebut hanyalah bagian dari simulasi penanggulangan bencana longsor bagi warga Purwoharjo. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIY, Heri Siswanto mengatakan, kapasitas masyarakat perlu ditingkatkan agar lebih tangguh dalam menghadapi bencana.

“Masyarakat sebagai kalangan yang langsung merasakan dampak bencana harus dibuat tangguh sehingga resiko korban jiwa dan kerugian harta benda bisa diperkecil atau bahkan dihindari,” ungkap Heri.