PENDAKI TEWAS : Ini Kata Taufik Sebelum Meninggal di Rinjani

Muhammad Ali, kawan mendaki Taufik ke Gunung Rinjani, menunjukkan foto mendiang kawannya setelah prosesi pemakaman di rumah duka, Rabu (26/4/2017). (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
27 April 2017 06:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pendaki tewas kali ini dari Bambanglipuro, Bantul

Harianjogja.com, BANTUL -- Satu lagi pegiat alam bebas harus tewas akibat egonya sendiri. Kali ini menimpa Taufik Budi Prasetyo, 23, warga Dusun Jomblang Desa Mulyodadi, Bambanglipuro. Pemuda itu ditemukan mengapung tak bernyawa di Air Kalak, kolam air panas di sekitar Danau Segara Anak, usai turun dari Puncak Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seperti apa kisahnya?

Baca Juga : http://www.harianjogja.com/?p=812688">PENDAKI TEWAS : Tengah Berendam, Tauifik Tiba-Tiba Menghilang

Setelah lulus dari SMK Pembangunan, Mrican, Sleman, Taufik yang dikenal periang dan berotak cerdas itu melanjutkan karirnya ke luar Bantul. Bogor, di sanalah ia lantas merantau. Bekerja di sebuah pabrik untuk membiayai sendiri ongkos kuliahnya di Universitas Jayabaya, Jakarta.

“Dia itu sama sekali tidak mau merepotkan orang tuanya. Ingin kuliah, dia cari kerja sendiri,” kata Suprapti, ibunda mendiang, Rabu (26/4/2017)

Dengan suara parau sambil sesekali terisak, perempuan berumur 46 tahun itu tampak masih tak percaya, sulungnya itu harus pergi untuk selamanya di usia yang baru 23 tahun.

Bahkan, nyaris tak ada satu pun firasat yang menyiratkan akan kepergian putranya itu. Meski tak pernah mendukung kegemaran anaknya mendaki gunung, tapi ia dan Juweni, suaminya, pun tak melarang anaknya itu untuk keluar masuk hutan saat liburan.

Satu-satunya keanehan yang ia ingat saat Kamis (20/4/2017) siang lalu, ia mendadak menerima telepon dari mendiang. Di seberang sana, mendiang berpamitan hendak mendaki Gunung Rinjani. Tak seperti biasanya yang tenang meski terus memberikan pesan dan wejangan, kali ini detak jantung Suprapti terasa nyaris terhenti.

“Entahlah, mak jleg saja rasanya hati ini waktu dia pamit mau naik Gunung Rinjani,” kenang Suprapti sambil sesekali mengusap ujung mata sembapnya yang terus berkaca-kaca.

Kematian Taufik itu, praktis menambah panjang deretan korban tumbal Aik Kalaq. November 2016 lalu, di kolam itu satu nyawa juga terenggu. Waktu itu, Ng Yin Teck, seorang warga Malaysia harus kehilangan nyawa setelah berenang di kolam itu.

Kini, harus berapa nyawa lagi yang terenggut di lokasi yang sama. Pendaki gunung, siapapun itu, seharusnya bisa lebih bijak dalam menyikapi kondisi alam.