Mi Mokaf, Mi dari Singkong Asal Gunungkidul

28 Mei 2017 09:21 WIB Bernadheta Dian Saraswati Gunungkidul Share :

Ketela pohon atau singkong menjadi makanan khas daerah Gunungkidul

Harianjogja.com, JOGJA-Ketela pohon atau singkong menjadi makanan khas daerah Gunungkidul. Beragam makanan bisa diproduksi dari bahan ini. Untuk memberikan kemudahan dalam mengolahnya, warga lokal sudah mampu menyajikan singkong dalam bentuk tepung. Masyarakat umum mengenalkan dengan tepung mokaf.

Salah satu makanan yang bisa dibuat dari tepung mokaf adalah mi. Mi dari tepung mokaf dikenal memiliki kadar gizi yang tinggi dan aman untuk anak-anak.

Salah satu anggota Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira) Gunungkidul Bekti Kadarsih menyampaikan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pembuat mi mokaf berupaya menyajikan makanan yang sehat.

“Untuk pewarnanya saja kami pakai bahan alami. Pakai sayuran dan buah,” katanya pada Harianjogja.com saat ditemui di Hotel Eastparc, Selasa (23/5/2017).

Mi warna hijau bisa diperoleh dari brokoli atau cabai hijau, merah dari tomat dan cabai merah, ungu dari ubi ungu, dan kuning dari wortel. Mi mokaf Gunungkidul juga tidak mengandung bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi siapa saja.

Di tengah gencarnya masyarakat lokal Gunungkidul dalam mengolah singkong menjadi makanan bergizi, masih ada kekurangan yang mereka hadapi. Sampai saat ini, produk mi mokaf ini masih banyak dikonsumsi oleh warga DIY.

“Harapannya bisa menembus pasar luar melihat produknya bisa bersaing dan menggunakan bahan-bahan yang sehat,” katanya.

Menurutnya, mi mokaf ini juga bisa dimasak sesuai selera. Cocok jika dimasak menggunakan lada, ditumis, maupun untuk dicampur kuah bakso. Bumbu yang dibuat sendiri membuat konsumen bisa mengira-ira rasa masakan mi sesuai seleranya.

Selama ini, pemasaran mi mokaf dan produk makanan Gunungkidul dipasarkan melalui pameran. Jika ada acara seperti sosialisasi dan rapat kerja daerah, para perempuan pengusaha di Gunungkidul tak pernah melewatkannya untuk menjual produk-produknya.

Tidak hanya mi mokaf, para perempuan di Gunungkidul juga memproduksi tiwul instan, gatot instan, rengginan tiwul, manggleng, dan masih banyak lagi. Bekti berharap, makanan khas Gunungkidul yang diolah dalam kemasan yang modern ini bisa diterima di lidah masyarakat Indonesia dan wisatawan asing.