Media Jangan Menjual Kehebohan

08 Maret 2018 14:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Media semestinya tidak hanya memuat berita-berita heboh yang bertujuan menarik pembaca seluas-luasnya

 
Harianjogja.com, JOGJA--Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Gatot Saptadi menyatakan media semestinya tidak hanya memuat berita-berita heboh yang bertujuan menarik pembaca seluas-luasnya. Meskipun koran adalah sebuah perusahaan yang perlu laba, tapi penyajian informasi yang berkualitas dan berimbang harus terus diutamakan.

Hal itu ia tegaskan saat menerima kunjungan Surat Kabar Harian Jogja di ruang Kerjanya di Kompleks Kepatihan, Rabu (7/3/2018). Hadir dalam kesempatan itu Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton W. Prihartono, Redaktur Desk Kota Jogja Sugeng Pranjoto dan GM Pemasaran Harian Jogja Sri Pujiningsih.

Gatot berharap Harian Jogja, sebagai salah satu surat kabar lokal di DIY bisa tetap konsisten mengusung visi yang telah diusung selama ini. Harian Jogja diharapkan bisa tetap menjadi sebuah perusahaan yang panjang umur, tapi di saat yang bersamaan tetap bisa menyediakan informasi berkualitas. "Hati-hati lah [agar tidak tutup]," katanya.

Menurutnya, Pemda DIY tak berkeinginan mendikte sebuah media agar terus menerus menelurkan berita positif secara membabi buta. Jika memang ada kebijakan yang dirasa tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, maka Pemda DIY siap menerima kritik dari media. Hanya saja, Informasi yang disebarluaskan sebisa mungkin lengkap dan berimbang.

Informasi yang lengkap, berimbang (dan terkonfirmasi), sambungnya, penting dikedepankan. Mengingat saat ini dunia sedang berada dalam tahap banjir informasi. Di mana informasi mengalir dengan cepat melalui media sosial. Sehingga media perlu menangkal adanya berita-berita tak benar yang bersumber dari media sosial.

Ia juga meminta media untuk tidak menjual kehebohan demi mendulang keuntungan dan akhirnya menyalahi asas-asas kepatutan. "Saya setuju kode etik [perlu ditegakkan]. Dulu sewaktu jadi Kepala Pelaksana BPBD DIY saya melihat media menampilkan foto-foto serem untuk menaikkan rating," jelasnya.

Anton W. Prihartono mengutarakan, Harian Jogja tidak terobsesi mengejar rating. Salah satu contohnya adalah pemberitaan mengenai penyerangan Gereja St Lidwina Bedog, Sleman oleh pemuda bersenjata pedang. Alih-alih fokus memberitakan kejadiannya, Harian Jogja lebih memilih menurunkan laporan yang mengajak semua pihak tetap menjaga kerukunan dan toleransi di Bumi Mataram.

"Kritik yang kami berikan juga senantiasa konstruktif. Kami pun selalu mengarahkan para wartawan untuk membuat berita yang mengedukasi dan menginspirasi," ujarnya.