Kerusuhan Suporter, Kerumuman Meniadakan Nilai & Norma

Rekonstruksi pengeroyokan Haringga Sirla. - Okezone
28 September 2018 06:10 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kekerasan antarsuporter klub sepak bola terus terjadi karena mereka berada dalam mode kerumuman, di mana nilai dan norma sosial yang biasa berlaku tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang patut diindahkan. Penyebab lain karena suporter adalah aset yang terus dikapitalisasi oleh klub.

"Kerumunan itu kan orang bertemu dan berkumpul. Di sana nilai dan norma yang biasa berlaku tidak berlaku karena norma dan nilai sudah tidak bisa mengendalikan kerumunan, memang jadi seperti bebas sebebasnya," ujar sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Sunyoto Usman saat ditanya mengenai penyebab kekerasan di sepak bola yang terus langgeng, Kamis (27/9/2018).

Kekerasan antarsuporter klub sepak bola di Indonesia terus terjadi. Korban terbaru adalah suporter Persija, Haringga Sirila yang kehilangan nyawa seusai dikeroyok pendukung Persib sebelum pertandingan antarkedua tim berlangsung.

Penyebab kedua kenapa kekerasan terus terjadi, kata Sunyoto, adalah fanatisme terhadap perserikatan (klub). Perserikatan ini kemudian berkembang menjadi bisnis. Pendukung dan penonton adalah bagian dari aset yang dikapitalisasi untuk kepentingan bisnis.

"Untuk membiayai proses pertandingan kalau tidak didukung pendukung, bisa tekor. Inilah yang harus dijaga, boleh mendorong dukungan yang kuat, tetapi tidak boleh anarkis. Ya berat [kalau pengelolaan suporter diserahkan ke klub] karena klub mengelola pemain. Harusnya ada yang mengelola sendiri. Harus ada model pengelolaan [suporter], mari kita cari bersama sama," jelasnya.

Sunyoto mengatakan para pelaku kekerasan dan pembunuhan di dunia sepak bola harus diberikan hukuman setimpal agar ada efek jera. Para suporter juga harus diedukasi mengenai nilai-nilai sportivitas. Selain itu, para alumni yang sudah pensiun harus dihadirkan untuk memberikan pencerahan kepada suporter yang masih aktif agar mengerti kenapa kekerasan dan pembunuhan di olahraga sepak bola itu harus dihentikan.

Pengamat pendidikan Profesor Buchory mengatakan olahraga bukan lagi hanya dimaknai sebagai olah tubuh sehingga melahirkan fanatisme buta sehingga orang yang berasal dari pendukung klub berbeda dianggap musuh, dan oleh karena itu sah-sah saja untuk ditiadakan. "Pemainnya saja akur. Kenapa suporternya fanatik. Ini harus diperhatikan. Fanatisme kelompok harus dihilangkan."

Kepala Bidang Perencanaan dan Standardisasi Pendidikan Disdikpora DIY Didik Wardaya mengatakan pihak yang paling tepat untuk membina siswa agar tak lagi jadi pendukung fanatik dan kebablasan klub bola adalah sekolah. Disdikpora DIY telah meminta sekolah agar memberi perhatian atau larangan kepada siswa saat ada pertandingan sepak bola.

"Kalau ada pertandingan, sekolah memberi perhatian atau sehari sebelumnya memberi warning jadi mengedukasi. Pendidikan itu kan membangun pembiasaan. Pas ada pertandingan di jam sekolah, ya tetap sekolah. Namun mengadvokasi harus dengan cara menarik supaya mereka tertarik," ujar Didik.