Tambang Ilegal Pemasok Material Bandara Terendus, Ini yang Akan Dilakukan Polres Kulonprogo

Ilustrasi penambangan batu. - Solopos/Burhan Aris Nugraha
24 Oktober 2018 09:50 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Polres Kulonprogo saat ini tengah mengupayakan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY.

Hal ini terkait dengan kasus penambangan ilegal hingga penyitaan sejumlah alat berat dan pengangkut hasil tambang di Dusun Kaligondang, Desa Temon Kulon, Kecamatan Temon pada Jumat (12/10/2018) lalu.

Kasat Reskrim Polres Kulonprogo, AKP Ngadi mengatakan upaya kerjasama tersebut dilakukan guna menentukan langkah hukum yang tepat. Dia tidak ingin gegabah untuk mengambil keputusan.

Adapun sejauh ini pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut. "Masih proses sidik dan upaya tetap koordinasi dengan DPUPESDM DIY," ucap Ngadi, Selasa (23/10/2018).

Disinggung mengenai status penanggung jawab penambang berinisal KN apakah menjadi tersangka atau saksi, Ngadi masih enggan menjawab. "Intinya masih kami dalami," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, sebelumnya seorang berinisial KN mengaku sebagai penanggung jawab aktivitas penambangan ilegal di Dusun Kaligondang, Desa Temon Kulon, Kecamatan Temon.

Namun yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan surat-surat kelengkapan untuk aktivitas penambangan. Polisi lantas menyita sejumlah alat berat dan kendaraan pengakut tambang berupa dua unit ekskavator dan dua unit truk yang saat itu tengah beroperasi.

Selain itu polisi juga melakukan pemerikaan terhadap empat orang saksi yang merupakan operator ekskavator dan supir truk.

Diketahui aktivitas penambangan tersebut dilakukan oleh perusahaan tambang ilegal yang menginduk pada sebuah perusahaan legal yakni PT MMA.

Hasil tambang yakni tanah urug kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan lahan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon.