Hati-Hati Joki Ilmiah

Kanit Reskrim Polsek Bulaksumur, Iptu Tito Satria (kiri) menunjukkan kartu tanda peserta ujian dan identitas yang telah dipalsukan di Polsek Bulaksumur, Senin(21/5/2018). - Harianjogja.com/Irwan A. Syambudi
30 Oktober 2018 11:10 WIB Laila Rochmatin Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Lembaga Penelitian, Publikasi & Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M UMY) terus memberikan dukungan terhadap dosen dan mahasiswa untuk berkarya melalui jurnal nasional maupun international. Pada Sabtu (27/10/2018) dengan menggandeng Kemenristekdikti, LP3M UMY mengadakan acara Sosialisasi Pedoman Akreditasi Jurnal Ilmiah 2018 di Gedung AR Fachrudin A lantai V UMY.

Lukman, Kepala Subdirektorat Fasilitasi Jurnal Ilmiah Kemenristekdikti selaku pembicara utama mengatakan banyak kasus yang terjadi dalam publikasi ilmiah seperti modifikasi daftar pustaka, mafia sitasi, plagiasi, hingga yang paling parah adalah joki ilmiah. “Saya sudah menginvestigasi sendiri ternyata banyak dosen hingga pejabat-pejabat yang menggunakan jasa joki untuk memenuhi kebutuhan syarat karya ilmiah mereka,” ucap Lukman.

Dikatakan Lukman, joki-joki ini tersebar di berbagai kota dan memiliki cara dan tarif masing-masing. Tak hanya itu, rata-rata joki ternyata adalah mahasiswa yang sedang menganggur. “Seharusnya dosen, pejabat atau pengguna jasa joki itu merasa malu, masa penelitiannya dikerjakan oleh mahasiswa yang sedang menganggur,” kata dia. Hal ini tentu berbahaya dan berdampak negatif bagi ruang lingkup penelitian dan pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu, Lukman berpesan agar para akademisi lebih berhati-hati. “Jejak digital itu sulit dihilangkan, nanti malu sendiri,” jelasnya.

Selain menyampaikan tentang joki ilmiah, Lukman juga mengajak para pengelola jurnal atau civitas academica untuk lebih memperhatikan fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan oleh Ristekdikti, Sinta, Arjuna, Garuda, dan Rujukan yang merupakan sistem online yang disediakan untuk mempermudah para pengelola jurnal untuk maju dan berkembang.

UMY hingga kini berhasil menghasilkan 29 jurnal yang siap untuk diakreditasi, bahkan delapan sudah terakreditasi. “Saya memberikan apresiasi kepada UMY dan ini harus dipertahankan oleh UMY karena yang sulit itu biasanya mempertahankan dan merawat,” jelas Lukman.

Gatot Supangkat, Kepala LP3M UMY, menaruh harapan yang besar bagi dosen dan para pengelola jurnal di UMY. “Semoga mendapat pencerahan sehingga jurnal UMY semakin bersinar di ruang lingkup pengabdian,” kata Gatot.