Menkes: Rumah Sakit Lokal Harus Pakai Alkes Lokal Juga

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek (dua dari kanan) bersama Komisaris Utama PT MAK Boentoro saat mengamati proses produksi homecare bed di Export Oriented Production (EOP) Plant MAK, Kamis (1/11/2018). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
01 November 2018 15:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Rumah sakit di Indonesia didorong agar menggunakan alat-alat kesehatan (alkes) produksi dalam negeri. Terlebih, kualitas produk dalam negeri tak kalah jauh dengan barang impor.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan produk industri hospital equipment dalam negeri seperti dilakukan PT Mega Andalan Kalasan (MAK) kualitasnya sudah bagus. Perusahaan ini bahkan mampu mengekspor produknya hingga ke 44 negara.

Seharusnya, lanjut Moeloek, industri dalam negeri melihat dan menghargai produsen alkes yang mampu memasok kebutuhan rumah sakit di luar negeri. Mulai tempat tidur, meja operasi hingga peralatan kesehatan lainnya.

"Ini juga bagian dari keberhasilan industri kesehatan di Indonesia. Kami mendorong agar rumah sakit di Indonesia menggunakan produk dalam negeri. Kalau kualitas produk dalam negeri bagus kenapa harus beli produk dari luar?," katanya di sela-sela peresmian EOP (export oriented production) Plant MAK, Kamis (1/11).

Selain meresmikan EOP tersebut, Menkes juga melepas ekspor alkes MAK ke lima negara, yakni Jepang, Tanzania, Australia, Myanmar, dan Filipina. Menurut dia produksi tempat tidur dan peralatan kesehatan MAK sudah teruji.

Bahkan bisa diekspor ke negara-negara yang memiliki standardisasi kesehatan yang tinggi seperti Jepang dan Australia. Dia berharap kepercayaan tersebut juga menular ke rumah-rumah sakit di Indonesia. "Saya sudah ke Jepang, di suatu rumah sakit mereka mengaku jika [tempat tidur] diambil dari Indonesia. Ini tidak lepas dari wujud kepercayaan konsumen," katanya.

Meski begitu, Moeloek mengingatkan agar kerja sama bisnis MAK dengan rumah-rumah sakit pelat merah untuk menggunakan produk MAK tetap harus dilakukan secara prosedur tanpa praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Pasalnya hal itu akan dipantau secara ketat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Meski kami mendorong rumah sakit pemerintah menggunakan produk nasional, tetapi harus tetap hati-hati karena akan dipantau oleh KPK. Jangan ada KKN," katanya.

Komisaris Utama PT MAK Buntoro mengatakan sejak 2005 MAK memasuki pasar dunia dan hingga saat ini telah berhasil melakukan ekspor ke lebih dari 44 negara. Meliputi Eropa, Afrika, Middle East Jepang, ASEAN, Australia, New Zealand.

"Ada lima tujuan ekspor utama Jepang, Uni Emirat Arab (UEA), Perancis, Myanmar, dan Tanzania. Khusus ekspor ke Jepang, sejak 2013 hingga kini adalah pengiriman kontainer ke 547 atau setara dengan 49.289 unit homecare bed. Total ekspor selama lima tahun ini sebesar US $10 juta [setara dengan Rp151,5 miliar]," kata dia.

Untuk mengantisipasi peningkatan ekspor ke Jepang yang dari tahun-tahun terus menanjak, PT MAK membangun pabrik khusus untuk tujuan ekspor dengan kapasitas 10 kontainer perminggu atau 500 kontainer per tahun senilai US $10 juta.

Adapun Kepala Disperindag DIY Tri Saktiana mengatakan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi di DIY, kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan MAK perlu ditularkan ke industri lainnya. Apalagi saat ini Pemda DIY terus mendorong Revolusi Industri 4.0 agar industri di DIY berkembang. "Revolusi Industri 4.0 sudah diterapkan MAK sejak 2013 atau lima tahun sebelumnya. Pemda DIY akan mendukung tumbuh kembangnya MAK agar ke depan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat," katanya.