KBA Kemuning, Mengais Rezeki, Membangun Ekonomi

Ibu-ibu warga Dusun Kemuning sedang membuat makanan olahan di rumah produksi UKM Oase Gunungsewu belum lama ini. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
30 Desember 2018 23:17 WIB Abdul Hamied Razak Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Siti Romlah terlihat sibuk memotong-motong singkong di rumah produksi yang menjadi markas UKM Oase Gunungsewu, Kemuning, Desa Bunder, Patuk, Gunungkidul. Romlah tidak sendiri. Dibantu beberapa orang, potongan singkong yang dibuat lempeng kemudian dijemur di tengah teriknya panas pada pertengahan November 2018. 

Bangunan rumah produksi tersebut sebenarnya masih belum rampung. Tembok di dindingnya masih berupa batako yang disusun dengan semen. Meski begitu, di bagian atap sudah dilengkapi dengan genteng baru. Hanya saja lantai bangunan itu masih berupa tanah. Ada tiga bagian ruang yang disediakan, ruang utama, pengemasan dan produksi (dapur) di bagian belakang bangunan. 

Kesibukan ibu-ibu tampak jelas di bagian produksi ini. Berbekal sebuah tungku lengkap dengan kayu bakarnya, seorang ibu mengaduk-aduk adonan jenang sebagai bahan pembuatan panganan jenang pisang uter. Asap mengepul dari tungku menerpa beberapa ibu lainnya ada yang asyik mengupas singkong. Suasana guyup rukun dan semangat gotong royong terpancar di sana.

"Paling lama itu ngaduk-aduk adonan jenang, bisa delapan jam. Ya kami lakukan bergantian biar tidak pegel-pegel tangannya," sergah Romlah. Adonan jenang itu nantinya dibuat untuk memproduksi jenang pisang uter. Selain itu, mereka juga memproduksi jenis panganan lainnya seperti Banana Roll, Lempeng Singkong dan juga Gaplek Geprek. Nah, Gaplek Geprek kata Romlah menjadi khas Kemuning sebuah panganan berbahan olahan singkong yang disirami gula jawa cair dan ditempatkan di wadah bambu.

Romlah memang dipercaya sebagai ketua UKM tersebut. Istri Dukuh Kemuning, Suhardi ini, mengaku jika kepiawaian ibu-ibu memproduksi panganan tersebut selain otodidak juga tidak terlepas dari hasil pelatihan yang diterima selama ini. Terutama terkait pengemasan (packaging). "Ini hasil pelatihan dan studi banding kami ke beberapa wilayah lain yang difasilitasi oleh Astra," katanya.

Kedua tangan Romlah tak henti-henti mengemasi camilan yang sudah jadi kemudian menatanya sebelum dipasarkan. Harganya pun terjangkau, untuk lempeng singkong dibanderol Rp5.000, gaplek geprek, jenang pisang uter dan banana roll dihargai Rp8.000. "Kami maksimal memproduksi 5kg untuk setiap jenis setiap hari, kecuali ada pesanan bisa dikerjakan secara lembur," kata Romlah.

Produk-produk camilan ini, selain ditawarkan pada pengunjung yang bertandang ke Kemuning juga dipasarkan melalui jejaring sosial seperti Facebook maupun Instagram. Tidak jarang, mereka juga mengenalkan produk-produk ini melalui pameran produk lokal yang digelar di berbagai daerah.

"Alhamdulilah, banyak yang respon. Ini membuat kepercayaan diri kami bertambah," katanya.

Produksi panganan olahan itu dilakukan di sela-sela para ibu bertani atau mencari rumput untuk ternaknya. Hasilnya memang tidak langsung bisa dinikmati, tetapi ditabung selama satu tahun. Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok ini menikmati hasil dan keuntungannya menjelang lebaran. Tak lupa, mereka juga menyisihkan keuntungan yang diraih untuk modal usaha dan kas dusun. 

"Dengan seperti ini kami bisa mendapatkan penghasilan tambahan, meski tak seberapa tapi konsisten," jelas Romlah. 

Kegiatan UKM Oase Gunungsewu, merupakan bagian dari Program Kampung Berseri Astra. Astra memberi dukungan dan stimulus kepada warga Kemuning melalui program empat pilar yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan dan Kewirausahaan. Pola pengembangannya tetap menjaga identitas dan karakter masyarakat. Penerapan keempat pilar di Dusun Kemuning dilakukan sejak tiga tahun lalu.

Dusun Kemuning, dengan potensi yang  dimiliki diarahkan menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) sektor wisata. Seluruh programnya diarahkan untuk ikut mendukung dan memperkuat identitas asli kampung tersebut. Tujuannya untuk mewujudkan kampung yang bersih, sehat, cerdas dan produktif. Alhasil, warga Kemuning pun merasakan banyak perubahan dalam tiga tahun terakhir.

Jika di sektor wirausaha ada UKM Oase Gunungsewu, di sektor pendidikan saat ini warga Kemuning memiliki Taman Bermain Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bangunan PAUD tersebut persis berada di depan UKM Oase Gunungsewu. Meski bangunannya tidak terlalu besar, namun semangat anak-anak yang bersekolah di sana sangat tinggi. Suara riuh anak-anak sesekali terdengar.

"Kami bersyukur sudah  punya gedung PAUD sendiri. Ini bagian untuk penguatan  karakter generasi penerus. Bagaimana pun pendidikan harus dimulai sejak dini," kata Suhardi, kepala Dukuh Kemuning. 

Selain mendapatkan akses pendidikan, anak-anak Kampung Kemuning juga dibekali dengan kegiatan kesenian. Jadilah dusun ini memiliki kelompok seni yang akan mendukung pengembangan wisata di sana. Mulai Seni Gamelan dan Wayang Kulit, Kirab Budaya, Tari Pasukan Kuda Lumping hingga Seni Jathilan. Mereka sangat antusias meneruskan tradisi leluhur.

Sektor lingkungan diterapkan dengan berbagai program, mulai kegiatan penghijauan baik di sekitar hutan maupun rumah-rumah warga. Ini terlihat dari deretan poly bag berisi beragam tanaman di beberapa rumah warga. Termasuk tanaman-tanaman hidroponik yang memanfaatkan botol-botol bekas.

"Ini masih awal, belum semua warga menerapkan pola tanam dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Ke depan ini akan diterapkan untuk semua warga," kata Suhardi.

Untuk menjaga kondisi lingkungan agar tetap bersih, setiap dua pekan sekali warga mengumpulkan dan memilah sampah plastik, kertas dan besi untuk di daur ulang. Sampah yang sudah dipilah kemudian diserahkan ke Bank Sampah Ngoro-oro. Bank Sampah ini dikelola oleh warga. Warga juga mendapat pelatihan mengolah limbah rumah tangga menjadi pakan ikan. 

"Untuk sampah organik dijadikan pupuk kemudian dimanfaatkan para petani. Setiap bulan kami sisihkan Rp150.000 per bulan untuk kas Posyandu Balita-Lansia dan Dana Sehat," kata Sekretaris Bank Sampah KBA Kemuning Endang Winarsih.

Terakhir sektor kesehatan. Di dusun ini, yang diperhatikan tidak hanya karena masyarakat, anak-anak maupun lansia. Kesehatan ternak-ternak warga pun diperhatikan. Makanya, selain ada kegiatan Posyandu anak dan lansia yang digelar sebulan sekali, ada juga Posyandu hewan khusus pemeriksaan kesehatan ternak. Karena lokasinya terpencil, mereka didatangi oleh tenaga kesehatan baik dari dinas kesehatan setempat maupun universitas.

Suhardi mengatakan, berkat KBA kawasan yang gersang dulunya terbilang gersang kini mulai tumbuh subur. Kontur tanah kapur disulap tetap produktif.  Selain pohon jati dan kayu putih, warga juga membudidayakan tanaman singkong. Tahun lalu, produksi singkong di Kemuning bahkan tercatat 80 ton.

"Kami akan bersama-sama mengembangkan Wisata Kemuning, termasuk mendorong anak-anak muda terlibat aktif membangun desa wisata di sini," katanya.

Telaga Kemuning, katanya, akan dijadikan andalan untuk menarik minat wisatawan. Selain mulai banyak dikunjungi para pemancing, danau itu juga sering dikunjungi wisatawan. Ke depan, mereka akan membangun kampung apung di tengah danau yang ditopang dengan potensi kuliner. Jika kampung apung terealisasi wisatawan bisa menikmati kuliner di tepian danau bahkan di tengah danau.

"Kami sudah siapkan skema paket wisata untuk mendulang wisatawan yang datang. Mulai wisata kuliner, wisata budaya, dan juga wisata sejarah," ujar Suhardi.

Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto mengatakan sejak Kemuning dipilih sebagai KBA progres kampung ini dinilai bagus. Terbukti, dari lima kategori KBA (Pratama, Madya, Nindya, Utama dan Kencana) hanya dalam tiga tahun KBA Kemuning masuk dalam kategori Nindya. Bukan tidak mungkin, kata Boy, status KBA Kemuning bisa ditingkatkan ke Utama bahkan Kencana.

"Untuk mencapai status sebagai KBA Utama hingga Kencana, KBA Kemuning masih perlu untuk terus berjuang menyesuaikan proyeksi, sesuai dengan target yang ditetapkan," katanya.

Untuk terus meningkatkan status KBA, warga diminta untuk terus bahu membahu menjalankan program yang dicanangkan dengan baik. Perjuangan itu perlu terus dilakukan untuk menunjang wilayah desa yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Program yang diimplementasikan berbasis pada konsep pengembangan yang mengintegrasikan empat pilar program KBA Astra. Ini membutuhkan dukungan semua pihak," katanya