Permasalahan Gizi Menjadi Perhatian Dinkes Gunungkidul

Logo Gunungkidul
02 Januari 2019 08:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Permasalahan gizi masih menjadi pekerjaan rumah Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Berbagai upayapun dilakukan untuk menekan masalah malnutrisi atau salah gizi yang meliputi gizi kurang, gizi buruk maupun gizi lebih.

Saat ini sendiri trend malnutrisi dinilai mengalami penurunan pada 2017 ke 2018. Gizi buruk dari 205, menjadi 160. Kemudian gizi kurang dari 2.130 menjadi 2.122 dan gizi lebih dari 827 menjadi 761.

Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengungkapkan masalah gizi buruk dan gizi lebih sama berbahayanya. Dikatakan Priyanta ada beberapa faktor yang menyebabkan malnutrisi.

“Untuk yang masalah gizi kurang dan gizi buruk biasanya ada beberapa faktor yang menyebabkan seperti premature, kemudian penyakit penyerta atau perilaku orangtua yang kurang perhatian,” kata Priyanta, Selasa (1/1/2019).

Sementara penyebab gizi buruk terkait kurangnya makan, menurut Priyanta sangat minim di Gunungkidul bahkan cenderung tidak ada. Dikatakannya untuk masalah kecukupan makan tidak ada masalah menurutnya, hanya saja untuk makan sayur dan buah dirasanya kurang maksimal.

Sementara untuk gizi lebih dikatakan Priyanta dapat memicu sejumlah penyakit, seperti obesitas, hipertensi, dan jantung. Penyebab gizi lebih sendiri dikatakannya lebih pada pola perilaku yang memberi makan sembarang, tidak memperhatikan keseimbangan gizi.

Berbagai upayapun coba dilakukan oleh Dinkes Gunungkidul untuk menekan angka permasalahan gizi ini. Diantaranya mendorong masyarakat untuk rutin memantau pertumbuhan anak, kemudian pemberian makan tambahan untuk yang mengalami gizi kurang.

“Kami juga terus menggalakan Germas [Gerakan Masyarakat Sehat],” ujarnya.

Salah seorang kader perempuan dan anak, dari Kecamatan Semanu, Ismi mengungkapkan pendekatan dengan ibu yang memiliki anak kecil agar memberikan perhatian dan asupan gizi yang memadahi.

“Berjalan semakin baik sekarang, pemahaman ibu-ibu sudah berubah. Pada intinya yang terbaik untuk anak terus dilakukan terlebih mengenai pola asuh dan pemberian makanan, kan ada anak yang tidak suka sayur, kemudian kami upayakan pemecahannya bagaimana agar pemenuhan gizi tetap seimbang,” katanya.