Lava Pijar Merapi Meluncur, BPBD Sleman Siapkan 600.000 Masker

Guguran Lava Pijar Gunung Merapi, Selasa (25/12/2018) pukul 00.11 WIB. - Ist/Twitter BPPTKG
13 Januari 2019 20:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menyiapkan 600.000 masker sebagai antisipasi meningkatnya aktivitas Gunung Merapi. Jawatan itu juga memastikan mitigasi bencana di Lereng Merapi cukup siap.

Berdasar hasil pantauan, selama beberapa hari terakhir Gunung Merapi terus mengeluarkan lava pijar. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dua kali guguran lava pijar meluncur dari Gunung Merapi pada Minggu (13/1/2019) dini hari ke arah hulu Kali Gendol. Sampai saat ini status Gunung Merapi masih Waspada Level II.

Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, mengatakan jajarannya mempersiapkan 600.000 masker yang disebar di beberapa lokasi. "Sudah kami distribusikan ke desa-desa dan puskesmas yang masuk kawasan rawan bencana [KRB]," ujarnya saat ditemui Harian Jogja, Minggu.

Selain didistribusikan ke desa dan puskesmas yang masuk KRB, masker juga disimpan di Gudang Logistik BPBD Sleman dan Gudang Dinas Kesehatan Sleman. Joko mengatakan selain logistik berupa masker, berbagai upaya mitigasi pun sudah siap. "Semua desa di Lereng Merapi sudah ditetapkan sebagai desa tangguh bencana [Destana]," kata Joko. Selain itu early warning system (EWS) yang ada di Lereng Merapi kondisinya bagus dan tidak ada kendala.

Joko mengatakan di Lereng Merapi terdapat sekitar 14 buah EWS. BPBD juga menyiapkan 12 barak pengungsian. Selain dari BPBD Sleman ada 39 barak pengungsian lainnya yang dikelola pemerintah desa dan Pemkab Sleman.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelono, mengatakan di Lereng Merapi destana yang sudah ada banyak diarahkan untuk persiapan beberapa langkah mitigasi seperti pembuatan jalur evakuasi, pembuatan titik kumpul dan barak pengungsian. Menurut Joko di Sleman secara keseluruhan sampai 2018 ada 45 destana. "Di awal pembuatannya program destana kami arahkan ke sejumlah desa yang ada dari Lereng Merapi, selanjutnya baru ke desa yang belum terjangkau seperti wilayah Sleman barat," kata Joko, Minggu.

Pada pelaksanaannya materi yang diberikan dalam destana pun berbeda-beda sesuai dengan potensi bencana yang ada di tiap daerah. "Ada potensi bencana akibat erupsi Merapi seperti di sejumlah desa wilayah Kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi dan Ngemplak. Kemudian di Prambanan kami buat destana dengan melihat potensi spesifik yakni tanah longsor. Untuk wilayah Sleman barat ada potensi bencana seperti angin puting beliung," katanya.