NYIA Berpotensi Gerus Kunjungan Wisata ke Gunungkidul

Suasana di Pantai Sepanjang, Desa Kemadang, Tanjungsari, Rabu (18/12/2018). - Harian Jogja/David Kurniawan
17 Januari 2019 19:15 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDULPembangunan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo berpotensi mengurangi angka kunjungan wisata ke Gunungkidul. Dewan bahkan menyatakan alarm sudah berbunyi dengan tidak tercapainya pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pariwisata di 2018.

Sebagai langkah antisipasi Bupati Gunungkidul, Badingah, meminta Dinas Pariwisata (Dispar) untuk terus berinovasi sehingga destinasi wisata di Bumi Handayani tetap memiliki daya tarik bagi pengunjung.

Kekhawatiran Badingah bukan tanpa alasan. Pemindahan bandara komersial dari Bandara Adisutjipto ke New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo membuat jarak antara pusat transportasi ke destinasi wisata di Gunungkidul semakin jauh. Hal ini membuat wisatawan khususnya yang menggunakan moda transportasi udara akan berpikir ulang untuk berkunjung ke Gunungkidul. Di sisi lain, Jawa Tengah yang lokasinya lebih dekat dengan bandara baru terus berbenah dalam pengembangan di sektor kepariwisataan.

“Di sana [Jawa Tengah] terdapat Candi Borobudur dan kawasan pantai. Kalau Pemkab Gunungkdul diam saja, maka wisatawan tidak mau datang sehingga berpengaruh terhadap tingkat kunjungan,” kata Badingah kepada wartawan, Kamis (17/1/2019).

Menurut dia untuk saat ini masih belum terlambat karena pembangunan bandara masih dalam proses sehingga masih ada waktu untuk bebenah. Badingah menuturkan potensi berkurangnya tingkat kunjungan wisatawan akibat pemindahan baru ke Kulonprogo juga sudah disampaikan ke Dispar Gunungkidul agar terus berinovasi sehingga destinasi wisata terus memiliki daya tarik. “Sudah saya perintahkan agar terus melakukan pengambangan dan inovasi,” katanya.

Badingah menyakini apabila inovasi dan kreativitas dalam mengelola pariwisata terus dilakukan maka dapat menjadi daya tarik sehingga pengunjung tetap mau berwisata ke Gunungkidul. “Kami juga sangat berharap adanya dampak terhadap pembangunan Kelok 18 di perbatasan Bantul-Gunungkidul karena akses ini nantinya memiliki daya tarik bagi wisatawan. Jadi saya harap pembangunan Kelok 18 bisa segera dirampungkan,” kata Badingah.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Gunungkidul, Edi Susilo, mengatakan pengembangan pariwisata di Gunungkidul sudah mendapatkan alarm peringatan dengan tidak tercapainya pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi wisata di 2018. Menurut dia pendapatan yang tidak memenuhi target ini harus dijadikan evaluasi sehingga pariwisata tidak mengalami kemunduran.

Edi menjelaskan tidak tercapainya PAD wisata bukan semata-mata karena faktor bencana alam dan gelombang tinggi yang terjadi di kawasan pantai. Namun, menurut Edi, juga disebabkan karena masih belum dimaksimalkannya potensi wisata yang dimiliki. “Tidak boleh diam dan harus terus berinovasi dengan memaksimalkan potensi wisata yang dimiliki,” katanya.