PENATAAN KOTA (2/2) : Menua di Jalanan Jogja

Kawsan Titik Nol Kilometer dipenuhi wisatawan beberapa waktu lalu - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
25 Januari 2019 22:30 WIB Mediani Dyah Natalia Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pembangunan tol yang masif di berbagai titik di Pulau Jawa menuai pujian. Pemudik di akhir tahun dapat mencapai perbatasan DIY lebih cepat dua-tiga jam dari perjalanan yang biasa ditempuh. Sayang, saat masuk Kota Budaya ini, situasi berubah. Laju kendaraan yang semula kencang terpaksa berjalan merayap. Jogja pun kini disandingkan dengan Jakarta yang selama ini menjadi jawara kemacetan dan menjadi calon penerima istilah menua di jalanan. Benarkah Jogja pantas menyemat status itu?

Sepasang turis asing mematung di sisi timur Malioboro. Tak ada gerak-gerik berarti yang diperlihatkan keduanya. Satu-satunya organ tubuh yang bergerak hanyalah mata yang melirik ke sisi utara dan ke selatan. Upaya ini dilakukan keduanya berulang tanpa putus.

Entah sudah berapa lama mereka berdiri, yang jelas terik sang Surya berhasil mengubah kulit pucat mereka menjadi merah muda. Warna pakaian keduanya yang semula berwarna lembut sedikit demi sedikit menua. Perubahan ini seturut dengan peluh yang keluar dari pori-pori mereka yang membesar.

Saat menyadari Matahari kian perkasa dan beranjak ke sisi barat laut, turis laki-laki itu menggenggam erat pergelangan tangan perempuan yang di sebelah kirinya. Sorot mata nanar yang semula diperlihatkan ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Kedua indra penglihatan yang bergerak ke kanan kiri ternyata juga dimaksimalkan membaca situasi. Dia melirik cara warga lokal menyeberang Malioboro. Mengangkat tangan kanan dan berjalan mendekati bibir trotoar lalu melintas. Selesai.

Dia berusaha mempraktikkan cara itu. Tangan kanan di angkatnya tinggi-tinggi sambil melihat celah di antara mobil dan motor yang lalu lalang. Kakinya maju selangkah, tetapi sedetik kemudian mundur lagi. Wajah keheranan yang semula diperlihatkan kembali terulang. Akhirnya dia menyerah. Tangan kanan yang semula diangkat dihempaskan ke bawah. Sembari menggenggam tangan pasangannya, mereka berbalik arah dan kembali memasuki halaman sebuah hotel bintang empat yang berdiri sejak 1908 itu.

Bagi turis-turis asing, kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di Jogja saat ini bak kereta api yang memiliki buntut yang tak terputus. Tak dapat ditebak kapan ada celah yang memungkinkan pejalan kaki atau pesepeda untuk melintas. Pengalaman serupa juga disampaikan Ade, warga Jakarta yang sempat mengenyam pendidikan di Jogja. Menurutnya, saat ini sulit mengemudikan mobil atau motor atau sekadar berjalan-jalan santai di Jogja. Padahal dulu dia wara-wiri mengendarai motor ke berbagai sudut Kota Budaya ini.

Belum lagi jika dia bepergian dari dan luar Kota Jogja. Jika semasa sekolah dia hanya menghabiskan waktu 40 menit dari Ring Road Selatan menuju rumahnya di area Ring Road Utara, kini dia harus menggandakannya. Bahkan waktu tempuh dari Ring Road Selatan menuju Kraton saat musim liburan pun hampir satu jam. “Jogja hampir seperti Jakarta. Bisa-bisa menua di jalanan,” kata perempuan 33 tahun yang kini 100% menjadi ibu rumah tangga ini. Padahal jarak tempuh antara kantor-rumah yang lebih dari dua jam adalah alasan utamanya mengundurkan diri.

Jalanan yang Manusiawi

Ketua Komunitas Sepeda Onthel, Towil menyampaikan Jogja saat ini sudah banyak bebenah. Namun kota pesepeda yang diharapkan belum juga terwujud. Warga yang memiliki kendaraan bermesin masih menjadi pemenang di jalanan. Jika hal ini dibiarkan, kata dia, candaan mengenai Jogja rasa Jakarta segera terjadi. Ketakutan terbesar orang-orang tua di jalan pun menanti di depan. Apakah kita akan berdiam diri? “Mari kita cegah. Giatkan sosialisasi dan edukasi mengenai bijak menggunakan jalan. Mari kita bumikan dan manusiawikan ruang untuk pejalan dan pesepeda. Kembalikan Jogja menjadi kota pesepeda,” kata Towil, ketika dihubungi Jumat (7/12/2018).

Kapten Running Is Our Therapy (RIOT) Chapter Jogja Arif Ardi Setiawan juga menilai Jogja kian membaik. Sayangnya, dia dan teman-teman komunitas lari masih kesulitan mendapatkan lokasi untuk berlari. “Jogja terlalu ramai, jalanan sempit, kadang trotoar dipakai para nonmotor [pedagang kaki lima]. Ruang pelari sangat minimal. Apalagi saat liburan. Jika RIOT daerah lain memiliki based, kami bingung mau di mana karena tidak ada tempat,” katanya.

Erlanto Wijoyono, pemerhati isu ruang publik menuturkan Jogja sudah lama mengklaim diri sebagai kota ramah pejalan kaki. Sejak dua-tiga tahun terakhir, pembenahan ke arah sana juga semakin terlihat. Sayangnya, kata dia, fokus pembangunan tersebut masih pada kawasan wisata bukan untuk melayani hak warga Jogja untuk mobilitas. Hal ini terlihat dari maraknya penataan di wajah-wajah Jogja seperti Malioboro. “Kapan dan bagaimana wilayah lain diperbaiki? Sebaiknya prioritaskan penataan pada kawasan yang vital. Misal trotoar sekitar sekolah, rumah sakit atau daerah yang banyak diakses publik yang lain,” tegas dia, Kamis (13/12/2018).

Angkutan Umum

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM untuk kajian Manajemen Lalu Lintas Iwan Puji Riyadi menilai pembenahan sudah dilakukan di Jogja. Meski terbilang terlambat, dia menilai ada gerakan menuju lebih baik. “Yang perlu didorong saat ini adalah pembatasan kendaraan. Harus rasional. Infrastruktur seharusnya lebih banyak melayani pergerakan nonmotorise. Apakah sudah tersedia? Jika sudah, apakah sudah manusiawi,” tanyanya saat ditemui di Pustral, Jumat (21/12/2018).

Berkaca dari pembangunan selama ini, Iwan justru menilai seluruh pemerintah daerah di DIY lebih banyak melayani keinginan bukan kebutuhan. Buktinya, fasilitas untuk kaum berduit yang memiliki kemampuan membeli kendaraan lebih diprioritaskan daripada kebutuhan orang banyak. Bahkan angkutan umum justru sering dianggap sebagai beban karena pemerintah harus menyediakan subsidi. “Kebijakan harus parsial. Misalnya Trans Jogja, dirancang berkapasitas 30 orang, tetapi luas halte terbatas, hanya bisa menampung beberapa orang. Kebijakan tidak sinkron,” terang dia.

Tol Baru

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Wirawan Hario Yudo mengatakan Jogja merupakan sebuah wilayah dengan panjang jalan 230 kilometer, sedangkan jumlah wisatawan mancanegara dan nusantara saat libur akhir tahun 2018 mencapai dua juta-tiga juta dan penduduk Kota Jogja ini 1,2 juta. Praktis, kata dia, perbandingan antara pendatang-penduduk serta luas wilayah sama sekali tak proporsional.

Dari sisi pertumbuhan jumlah kendaraan, dia mengaku berkisar 7%-10% per tahun. Jumlah tersebut, ujar dia, belum termasuk dengan kendaraan yang dibawa pendatang. Baik sebagai wisatawan, pekerja maupun mahasiswa/pelajar.

Jika di hari-hari biasa jumlah kendaraan sudah terlihat padat, saat libur panjang, situasi menjadi membeludak. Bahkan saat libur Idulfitri, jumlah kendaraan total dapat mencapai empat juta-lima juta.

“Kemacetan ini tidak hanya di Kota Jogja tetapi juga di kawasan aglomerasi, seperti Ring Road. Apalagi dari sisi kantong parkir, kita terbatas,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Kamis (10/1).

Menurutnya, kepadatan lalu lintas di Jogja saat libur akhir tahun lalu turut disebabkan dibukanya beberapa tol baru. Kenyamanan ini seolah melenakan orang sehingga memilih kendaraan pribadi untuk mudik.

Kendati demikian, tegas dia, Dinas Perhubungan telah menyiapkan antisipasi. Misal dengan memecah kepadatan hingga mempercepat lampu merah dan memperlama lampu hijau di kawasan perbatasan. Selain itu, dia meminta pengendara untuk berpikir lebih matang saat memarkirkan kendaraan, termasuk mengenai lama waktu parkir.

Ditanya soal anggapan tua di jalanan Kota Jogja, dia menuturkan situasi ini dapat dikembalikan. Terutama kepada para wisatawan. “Kalau ke Jogja, misal Malioboro, bagaimana jika tidak usah bawa mobil? Apalagi cari parkir juga harus berputar-putar. Lebih baik pakai transportasi umum atau kendaraan yang dipanggil secara online,” ujar dia.